PENTAKOSTA


Ketika sedang bermenung tentang peristiwa Pentakosta, banyak hal muncul ke benak saya. Ketika membaca Kisah “Turunnya Roh Kudus” dalam Kisah Para Rasul 2, saya terpesona karena kisah itu melukiskan bahwa orang-orang takjub bukan main karena mereka mendengar para rasul berbicara dalam bahasa mereka masing-masing. Dan kisah ini dengan tegas menyebut nama bangsa. Hal ini sungguh sangat menarik. Kenapa? Karena dalam Kisah Para Rasul 2:5 dikatakan; “Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.” Di sini kita melihat dengan jelas dikatakan “orang-orang Yahudi”. Nah kalau yang berkumpul di Yerusalem adalah orang-orang Yahudi apakah dibutuhkan bahasa asing? Bukankah orang-orang Yahudi saleh itu semua mengerti bahasa Aram dan bahasa international pada waktu itu (bahasa Yunani)? Kenapa harus ada mukjizat kemahiran bahasa?
Merenungkan dan memikirkan hal ini, saya terus terang mengatakan bahwa tak seorang pun tahu apa yang persis terjadi. Namun ada satu hal yang pasti yakni para murid dan para rasul yang sebelumnya takut karena kematian Yesus dan selalu “menutup diri” kini berani bersaksi atas kebenaran yang berasal dari Allah. Para murid yang bersaksi itu adalah orang-orang sederhana, sementara orang Yahudi saleh adalah orang-orang yang “terpelajar” dalam hal agama. Para murid yang sederhana tersebut MAMPU mewartakan Sabda Allah langsung ke dalam hati setiap pendengar. Setiap orang merasa disentuh dengan bahasa hatinya. Luar biasa bukan main. Setiap orang merasa disentuh secara khusus. Inilah kekuatan Roh Kudus. Sekali lagi bukan main. Hebat bukan buatan.


Juga, sembari bermenung akan peristiwa Pentakosta, saya teringat akan pelajaran Kitab Suci – yang saya pelajari entah kapan di masa lampau – yakni kisah yang terdapat dalam Kitab Yehezkiel 37. Ketika menghubungkan kisah Pentakosta dengan kisah ini, saya melihat satu benang merah, yakni “The Holy Spirit is like wakening the death.” Roh Kudus bisa dilukiskan sebagai daya yang menghidupkan “yang mati”. Kenapa saya katakan demikian? Karena para murid sebelumnya telah “mati”, mati dalam pengharapan dan mati dalam keyakinan akan Yesus yang sempat mereka agung-agungkan. Ketika mereka menerima Roh Kudus, mereka hidup kembali. Maka peristiwa Pentakosta bisa dikatakan peristiwa “penciptaan kembali” Gereja – tubuh mistik Kristus. Dan sekali lagi hal itu merupakan karya Roh Kudus.

Hal lain yang menarik perhatian saya ketika bermenung tentang Pentakosta ialah “bahasa Roh”. Tak bisa dipungkiri bahwa ungkapan tersebut akan secara otomatis muncul ketika bermenung tentang Pentakosta. Ketika saya membaca bacaan pertama saya terhantar pada kenyataan bahwa Yesus menasehati para murid untuk “berdoa” menunggu kedatangan Roh Kudus. Suasana doa tersebut membuat mereka sampai pada pengalaman ectasy. Mereka mengalami keintiman yang luar biasa dasyat dengan Allah dan mereka begitu dikuasi daya kuasa Allah dan karena itu mereka dengan mudah digerakkan oleh Roh Kudus. Peristiwa ectasy itu memungkinkan mereka dipakai oleh Roh Kudus untuk “berbahasa” yang mereka sendiri mungkin tak pahami. Maka bahasa Roh selalu berkaitan dengan pengalaman ectasy (bisa mungkin dikaitkan dengan pengalaman St. Franciskus yang biasa mengalami ectasy).

Sejalan dengan hal itu, maka kita harus hati-hati mengerti bahasa Roh, bahkan kita juga harus hati-hati dengan pengalaman ectasy, sebab pengalaman ectasy juga sangat berbeda dengan “menghipnotis diri sendiri”. Saya menduga bahwa “bahasa Roh” yang sering dipertunjukkan oleh kelompok tertentu adalah bagian dari “menghipnotis diri sendiri” dan bukan pengalaman ectasy karena doa yang mendalam.

Untuk mengakhiri permenenungan ini, saya hendak mengatakan bahwa Roh Kudus membuat para rasul dan para murid berani bersaksi. Semua orang Kristen adalah orang-orang yang telah menerima Roh Kudus. Konsekwensi dari ini ialah KITA HARUS BERANI BERSAKSI TENTANG KEBENARAN. Kalau kita tidak berani bersaksi tentang kebenaran iman kita berarti kita bukan orang yang sungguh percaya.
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger