Dari World Youth Day 2008

Pengantar
World Youth Day (Hari Orang Muda Sedunia), adalah prakarsa mendiang Paus Yohanes Paulus ke-2. Temu akbar kaum muda sedunia, yang 6 tahun lalu terjadi di Manila-Philipina, dilaksanakan sekali dalam tiga tahun. Tahun ini diselenggarakan di kota Sydney (Australia). Paus Benediktus di akhir WYD Sydney mengumumkan Madrid (Spanyol) menjadi tuan rumah WYD 2011.
Lewat penyelenggaraan WYD ini, kita diingatkan bahwa kaum muda adalah kelompok mayoritas dalam Gereja (dalam masyarakat, dalam dunia). Kelompok ini jangan di pandang ‘sebelah mata’. Mereka adalah kekuatan Gereja. Kelompok mayoritas ini, mesti mendapat perhatian dan tempat yang cukup serius.
Terhadap kaum muda dari seluruh dunia, dipaparkan fundamen moralitas yang terus-menerus dibangun Gereja. Misalnya ketika institusi Gereja menentang aborsi. Atau ketika Gereja terus menyerukan bahwa undang-undang negara yang menghalalkan perkawinan sejenis (gay) adalah keputusan yang bertentangan dengan kodrati asali manusia. Ketika Gereja membeberkan ancaman mengerikan bila IPTEK kloning terus dikembangkan. Dalam kesempatan WYD Gereja mengambil waktu menjelaskan keluhuran martabat para selibater dan pengikrar kaul. Isu sex abuse atau kasus pedophilia segelintir manusia, tak pernah di-amin-kan Gereja. Penyakit aneh itu tetap merendahkan martabat manusia dan merupakan penyelewengan martabat luhur imamat.
Serba-serbi WYD 2008
World Youth Day 2008 diselenggarakan di kota terbesar Australia, Sydney. Thema WYD kali ini diambil dari Kisah Rasul 1:8: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Sekalipun WYD Sydney ini efektif tanggal 14 sampai 20 Juli 2008, namun para peziarah dari seluruh dunia sudah berdatangan ke Australia seminggu - dua minggu sebelumnya. Kaum muda dari berbagai negara diterima di paroki di seluruh keuskupan Sydney dan di keuskupan-keuskupan yang tidak terlalu jauh dari Sydney, seperti keuskupan Paramata, Canberra dan Melbourne. Paroki-paroki tuan rumah berkewajiban mengurus tamunya dengan baik, misalnya menjadwalkan berbagai program yang diikuti para peziarah. Lalu, setiap keuskupan pada hari Minggu tanggal 13 Juli menyelenggarakan Days of Diocese. Hari pemberangkatan para peziarah ke Sydney ini, diisi dengan berbagai atraksi dari berbagai negara dan Misa Pemberangkatan yang langsung dipimpin uskup setempat.
Setiba di kota Sydney, kami mendapat kesempatan mengikuti Indonesian Gathering yang diselenggarakan komunitas Indonesia yang ada di Sydney pada hari Selasa, tgl. 15 Juli 2008. Senang bertemu dengan sekitar 2.000-an orang Indonesia. Senang mendengar lagu Indonesia Tanah Airku, ciptaan Gombloh. Mengagumkan bahwa begitu banyak orang yang tanpa ragu mengibar-ngibarkan bendera merah-putih. Melegakan bisa bertemu dengan Sdr. Matias Simanjorang, dan Sdr. Togu (Frater kapusin Medan yang sedang berjuang menyelesaikan studi teologi di Sydney). Senang juga bertemu dengan Sdr Erwin Simanullang (dari Medan) dan Sdr. Pictorius Dwiardi (dari Pontianak) yang juga datang untuk menghadiri WYD.
Sore hari seluruh peziarah, mengikuti misa pembukaan WYD di lapangan Bangaroo. Misa yang dihadiri sekitar 300.000 orang ini dipimpin Uskup Agung Sydney, Mgr. George Peell.
Setiap hari para peserta mengikuti program-program yang diorganisir panitia bekerja sama dengan kelompok bahasa. Pagi sampai siang ada katekese (ceramah) yang selalu diakhiri dengan Ekaristi. Kami selalu mengikuti katekese yang diorganisir KWI di Gereja St. Yosef New Town. Siang sampai sore ada pagelaran atraksi dari berbagai bangsa, adorasi Sakramen Maha Kudus, Jalan Salib dan sesekali ada Meditasi di sejumlah tempat. Sabtu pagi seluruh peziarah berjalan kaki ± 10 km menuju lapangan pacuan kuda Randwich, tempat berlangsungnya Misa penutupan yang dipimpin Paus Benediktus XVI.
Sekalipun Misa Penutupan WYD baru akan terlaksana Minggu tgl. 20 Agustus, namun seluruh peserta sudah harus ada di Lapangan Randwich semenjak hari Sabtu. Ratusan ribu pezirah malam minggu itu tidur di alam terbuka. Di malam yang dingin itu, Paus Benediktus datang memimpin Adorasi. Di tengah khusuknya malam adorasi, kaum muda menyampaikan doa dan harapan dalam sejumlah bahasa.
Misa Penutupan hari Minggu, tgl. 20 Juli 2008 adalah misa yang sungguh luar biasa akbar. Misa ini dipimpin langsung Sri Paus Benedick ke XVI. Menurut berita yang dilansir Canberra Times 21 Juli, di misa penutupan itu ikut konselebran 26 kardinal, 420 uskup (sayang tidak dicatat berapa ribu imam). Peziarah yang masuk di lapangan Randwich (masih menurut Canberra Times) adalah 400.000 orang dari 170 negara. Misa itu dimeriahkan 80 orang pemain musik dan 300 orang penyanyi (koor). Dalam misa ini, 42 orang kaum muda dari berbagai negara menerima Sakramen Krisma yang dilayankan langsung oleh Bapa Paus Benediktus.
Pesan WYD 2008
  1. Orang muda di tempat kita masing-masing, adalah ‚Gereja Masa Depan’. Mesti dicermati dari saat ini hal-hal menggembirakan dan mencemaskan yang tengah menjadi pergumulan Gereja masa depan itu. Gereja masa depan mesti ditangani secara baik dari sekarang. Kalau mau agar Gereja masa depan menggembirakan, maka hati diberi buat mereka dari sekarang. Mereka jangan dipinggirkan, melainkan harus dilibatkan. Mereka mesti diberi harapan, kepercayaan dan peran. Mereka harus bisa bangga karena dibaptis dalam Gereja Katolik.
  2. Dalam kepadatan program World Youth Day dan dalam keasyikan kaum muda menikmati kehangatan kota Sydney, selalu masih diberi waktu dan tempat untuk hal-hal rohani (Ekaristi, Adorasi, Jalan Salib, Meditasi). Seluruh hari tidak semestinya dikuras habis untuk meraih mimpi duniawi. Setiap orang selalu bisa menyisihkan waktu buat Tuhan.
  3. Di jalan-jalan kota Sydney, orang-orang muda bernyanyi sambil bertepuk tangan seturut gaya bangsanya masing-masing. Sesekali ada yang gemuruh suara Benedito ... Benedito ... Benedito. Tetapi ketika ada hal-hal penting sedang terjadi orang-orang muda itu dengan sendirinya tenang. Ketika tiba saat untuk mendengar, tenanglah, jangan berisik, melainkan dengar dan simaklah.
Penutup
Saya dan Agustinus Asaeli Ndruru, berterimakasih buat komunitas DOJCC (Discipless of Jesus Covennant Community) Canberra yang telah mensponsori kehadiran kami di WYD 2008. Kami berterimakasih kepada pihak keuskupan, khususnya Komisi Kepemudaan, yang merestui kepergian kami sebagai utusan Keuskupan Sibolga. Limpah terimakasih kami ucapkan kepada pimpinan Kapusin Sibolga yang mengijinkan kami menghadiri WYD Sydney ini.
Akhirnya, semoga Tuhan senantiasa menguatkan harapan seluruh orang muda di semua lingkungan, stasi dan paroki di keuskupan kita.
P. Thomas Maduwu OFMCap,


Țgizita РHilimegai.
Share this post :

+ komentar + 1 komentar

29 November 2008 06.20

Wow..selamat Pastor :) Moga makin mengerti perasaan dan pikiran kaum muda untuk dibina dan dibimbing dalam hal spiritual. Moga makin kuat dalam panggilan Imamatnya.
Salamku,

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger