Menoleh Sejarah Merangkai Kisah

PESTA 50 TAHUN NOVISIAT KAPUSIN INDONESIA

(1958 – 2008)



“.... Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20)



1. Sejarah


Misi Kapusin di Indonesia dimulai pada tahun 1905. Empat orang saudara Kapusin mendarat di Singkawang, Kalimantan. Pada tahun 1911 Prefektur Sumatera dibentuk, kemudian pada tahun 1912 seluruh Pulau Sumatera diambil alih oleh Kapusin Propinsi Belanda. Namun karena luasnya medan pelayanan sedangkan tenaga belum mencukupi, maka demi mengefektifkan pelayanan diserahkan kepada ordo dan kongregasi lain. Pada saat itu ditetapkan Kapusin berkarya di Kalimantan Barat dan Sumatera Utara.

2. Formasi Awal: Novisiat Sebagai Peletakan Dasar Hidup Religius


"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Lukas 10:2) Oleh sebab itu ketika semakin disadari kebutuhan ini semakin mendesak beberapa Pejabat Gereja mengadakan pertemuan untuk membicarakan proses formatio awal pendidikan Kapusin. Sampai pertengahan tahun 1958 wadah untuk mendidik Kapusin muda belum ada. Sedangkan kebiasaan saat itu bahwa mereka yang mau menjadi Kapusin dikirim ke negeri Belanda. Di sana mereka melaksanakan masa Novisiat, studi filsafat dan teologi. Di sana juga mereka ditahbiskan. Selesai studi mereka pulang ke Indonesia. Saudara yang terakhir melaksanakan Novisiat dan studi filsafat di negeri Belanda adalah Benitius Brevoort yang mengucapkan kaul perdananya tanggal 31 Agustus 1957. Lalu atas permintaannya sendiri ia kembali ke Indonesia dan mulai studi teologi bersama Pius Datubara di Parapat.

Dalam suatu pertemuan yang dihadiri Mgr. Ferrerius v.d. Hurk (Vikaris Apostolik Medan), Mgr. Tarcicius van Valenberg (Vikaris Apostolik Pontianak), Marianus v.d Acker (Superior Regularis Medan) dan Martinus Verstralen (Superior Regularis Pontianak), diputuskan: Agustus 1958 akan dibuka Novisiat Kapusin di Parapat Para frater hendaknya diberi nasehat untuk menjadi Kapusin. Alasan utama untuk ini dapat diringkaskan:
  • untuk pastor-pastor pribumi sangat penting kalau mereka diterima dalam satu kelompok, satu tarekat.
  • Di Medan dan Pontianak bekerja hanya saudara-saudara Kapusin.
  • Untuk melindungi panggilan mereka hendaknya diberikan pendidikan rohani sekurang-kurangnya pada tahun-tahun pertama, supaya mereka masuk dalam Ordo Kapusin.

Untuk melaksanakan rencana itu dibutuhkan biara yang sungguh-sungguh cocok untuk pendidikan Kapusin. Mgr. Ferrerius v.d Hurk pada saat itu masih menjadi Superior Regularis, membeli rumah di Parapat yang dikenal di Parapat sebagai ‘Rumah Ijuk’ karena atapnya terbuat dari ijuk. Ketika dibeli, rumah itu rusak dan harus dibangun kembali. Letaknya di atas gunung, pemandangannya indah sekali. Bila kita datang dari Pematangsiantar biara novisiat kelihatan dari jauh.

3. Kapusin Muda Sebagai Generasi Penerus Ordo


Setelah secara resmi Novisiat Kapusin dibuka di Parapat Marianus v.d Acker ditunjuk sebagai magister novis yang pertama. Maka tanggal 1 Agustus 1958 novis-novis pertama menerima jubah Kapusin. Yang masuk Novisiat hanya mereka yang mulai dengan filsafat. mereka diberi jubah coklat untuk tertiaris, tanpa kap. Dari para novis pertama hanya satu orang tahan sampai meninggal, yakni Fr. Apollinaris Sinaga, yang meninggal Juli 1960, karena penyakit leukemia.

Bulan Oktober 1955 Br. Felix Daeli masuk biara. Baru beberapa tahun sesudah itu, Felix masuk novisiat dan mengucapkan kaul perdana 1959. Dengan itu ia menjadi Kapusin pertama yang melaksanakan novisiatnya di Indonesia. Dengan Br. Felix, mulailah digoreskan sejarah baru; pendidikan awal sebagai Kapusin mulai diselenggarakan di Indonesia, bukan lagi di negeri Belanda. Br. Felix sendiri menghadap Sang Khalik pada 29 Januari 2002 dan dimakamkan di Pekuburan Kapusin Laverna Gunungsitoli.

Sebelumnya pada 1949 dibuka Seminari menengah di Nyarumkop dan tahun 1957 tamatannya yang pertama diutus ke Parapat masuk ke Seminari tinggi yang baru dibuka. Kapusin Dayak pertama, P. Mattheus Sanding masuk Novisiat tahun 1959 dan ditahbiskan menjadi imam tahun 1966.

Pada tahun 2001 Kapusin Propinsi Pontianak membuka novisiat sendiri di Poteng, Kal-Bar. P. Damian Doraman, OFM Cap menjadi magister pertama. Angkatan pertama novisiat Poteng sampai saat ini sedang menjalani masa TOP.

Terhitung sampai pada bulan Juni 2008 jumlah uskup yang pernah dididik dari Novisiat Parapat berjumlah 5 orang, imam 224 orang, sedangkan jumlah frater dan bruder yang berkaul kekal 41 orang.

4. Aneka Kegiatan di Novisiat: Doa dan Karya

Hidup para novis dalam tahun kanonik diisi dengan beragam kegiatan. Doa, bimbingan rohani, studi, kerja tangan dan kerasulan menjadi bagian pendidikan para novis. Kurikulum dibuat semata-mata demi pematangan hidup rohani dan jasmani; serempak semakin mendalami dan menghidupi semangat kekapusinan. Melalui doa dan karya diharapkan para novis semakin berkembang dalam keutamaan dan dalam kesempurnaan cinta kasih.

Doa adalah nafas jiwa. Doa yang berbuah adalah doa yang menjiwai seluruh langkah laku dan tutur kata. Melalui doa hidup dikuduskan dan karya yang akan kita jalani disucikan.

Bagi St. Fransiskus setiap saudara dikaruniai oleh Tuhan untuk bekerja dengan setia dan bakti. Sehingga mereka, sambil mencegah diri dari sikap bermalas-malasan yang merupakan musuh jiwa, tidak memadamkan semangat doa dan kebaktian suci. Hidup doa dan karya hendaknya selaras dalam hidup kekapusinan.

5. Magister: Guru Spiritual dan Bapa Rohani


Dengan dedikasi dan pemberian diri yang utuh para saudara yang diberi tugas sebagai magister novis menjalankan tugasnya dengan baik. Tak henti-hentinya para magister dibantu beberapa formator lain berusaha menanamkan nilai-nilai kekapusinan dan kekatolikan yang mengakar dan berbuah. Dalam perjalanan formatio awal kekapusinan para magister dan formator adalah bapa-bapa rohani dan guru spiritual yang dengan sepenuh hati memberi dirinya untuk mengembangkan hidup kekapusinan dengan segala dimensinya; doa, karya dan cinta yang hidup bersaudara bersama semua makhluk ciptaan Allah.

Sejak tahun 1958 sampai 2008 ada delapan orang saudara yang menjadi magister novis di Parapat, antara lain:

  1. P. Marianus v.d Acker OFM Cap. (1 Agustus 1958 – 1960)
  2. P. Honorius v.d (1960 – 1972)
  3. P. Benitius Brevoort OFM Cap. (Juli 1972 – 1988)
  4. P. Savio Nederstigt (1988 – 1992)
  5. P. Samuel Sidin OFM Cap. (1992 – 1997)
  6. P. Marianus Simanullang OFM Cap. (1997 – 2001)
  7. P. Henry Sihotang OFM Cap. (22 Januari 2001 – 1 Januari 2007)
  8. P. Albinus Ginting OFM Cap. (1 Januari 2007 – sekarang)

6. Langkah Semakin Berderap

Dari waktu ke waktu jumlah Kapusin semakin bertambah. sudah sepantasnya kita menyampaikan doa syukur kepada Allah, atas perlindungan dan rahmatNya sehingga Ordo Kapusin bertumbuh dan berkembang di Indonesia. Persaudaraan Kapusin adalah rahmat bagi umat dan Gereja semesta. Kiranya melalui pesta emas Novisiat Kapusin Parapat semangat bapa serafik kita St. Fransiskus Assisi semakin menjiwai doa dan karya kita demi umat yang dipercayakan Allah kepada hamba-Nya yang hina dina. Kerja belum selesai, jalan masih panjang namun kita yakin Allah Pencipta senantiasa berkarya. Seperti Allah yang tetap berkarya sampai saat ini kita pun demikian hendaknya; “Marilah kita berbuat sekali lagi sebab sampai sekarang kita belum berbuat apa-apa.” St. Fransiskus Assisi.




DOA DI DEPAN SALIB




Allah yang Mahatinggi


dan Penuh kemuliaan,
terangilah kegelapan hatiku
Dan berilah aku


iman yang benar,
pengharapan yang teguh
dan kasih yang sempurna;
Berilah aku ya Tuhan,
perasaan yang peka
dan budi yang cerah,


agar aku mampu melaksanakan perintah-Mu
yang kudus dan yang takkan menyesatkan.


(St. Fransiskus Assisi)
Share this post :

+ komentar + 1 komentar

alfons
5 Januari 2009 09.52

suatu perjalanan misi yang sangat dipenuhi dengan terang Roh Kudus dan semangat kemiskinan St. Frans Assisi. mendorong kita untuk tidak bersikap agnostik untuk hal sekecil apapun..Nyalakan terus semangat misi!!!!! Dominus Vobis Cum...

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger