Mencintai Musuh?

Renungan Hari Selasa 17 Juni 2008
1 Raja-raja 21:17-29 & Matius 5:43-48
Matthew 5: 43-48


Jesus said to his disciples: “You have learnt how it was said: You must love your neighbour and hate your enemy. But I say this to you: love your enemies and pray for those who persecute you; in this way you will be sons of your Father in heaven, for he causes his sun to rise on bad men as well as good, and his rain to fall on honest and dishonest men alike. For if you love those who love you, what right have you to claim any credit? Even the tax collectors do as much, do they not? And if you say your greetings for your brothers, are you doing anything exceptional? Even the pagans do as much, do they not? You must therefore be perfect just as your heavenly Father is perfect.”
Saudara dan Saudari, Injil hari ini adalah salah satu text yang paling populer dari Kotbah di Bukit. Injil ini juga merupakan tulisan yang paling menantang (mungkin sepanjang segala zaman). Mencintai musuh??? Mencintai yang bukan musuh saja sulit, apalagi mencintai musuh.

Saudara dan Saudari, untuk mengerti Injil ini, saya mengusulkan supaya kita membaca Encyclical Letter dari Paus Benediktus XVI “Deus Caritas Est = God is Love = Allah adalah Cinta”. Juga akan membantu kalau kita membaca Apostolic Exhortation dari Paus Benediktus XVI “Sacramentum Caritatis = The Sacrament of Love = Sakramen Cintakasih”.

Sekarang mari kita melihat Injil ini secara lebih dekat. Mencintai musuh. Apa maksud Yesus dengan ungkapan ini? Apakah kita dimaksud mencintai musuh kita sebagaimana kita mencintai orang-orang yang paling dekat dengan kita dan orang-orang yang kita paling cintai? Pasti tidak. Sebab hal itu tak mungkin. Lalu apa maksudnya?

Sekarang mari kita lebih dahulu berbicara tentang mencintai orang yang kita cintai. Di sini kita berbicara dalam konteks “jatuh cinta”. Mencintai orang yang kita cintai ialah dorongan hati yang sering kita tak bisa jelaskan. Kita hanya jatuh cinta. Hati kita memaksa kita untuk “jatuh cinta”. Kita pada umumnya tidak “mencipta” dan tidak “membuat” kita jatuh cinta, tetapi kita pada posisi jatuh cinta. Kita menikmati posisi tersebut. Ada perasaan yang meluap-luap dan ingin dilampiaskan.

Sementara ketika kita berbicara tentang mencintai musuh. Kita sama sekali tidak berbicara dalam bahasa “jatuh cinta”. Tidak ada dorongan hati kita untuk mencintai musuh. Maka dalam konteks ini kita berbicara tentang cinta yang berasal dari dorongan kemauan – “will”. Cinta ini berasal dari dorongan “mind”. Ini adalah keinginan untuk mencintai orang yang pada dasarnya tidak kita cintai dan mereka juga mungkin tidak mencintai kita. Jadi cinta jenis ini menuntut kesadaran yang total dan pertolongan Allah. Cinta jenis ini adalah cinta yang tak mungkin kita wujudkan tanpa kekuatan dari Yesus. Kita tergantung secara total pada nilai-nilai yang dibawa oleh Yesus untuk sanggup mewujudkan cinta ini. Sering hati dan perasaan kita tidak ingin mencintai, tetapi kesadaran kita akan nilai Injil mendorong kita untuk mencintai.

Mengapa kita harus mencintai musuh? Yesus memberi penjelasan dengan contoh yang luar biasa. Alasan utama ialah, kita dicipta seturut gambar dan rupa Allah. Allah adalah cinta. Maka kita dicipta seturut gambar dan rupa cinta. Cinta Allah tak mengenal batas. Maka kita dicipta seturut rupa cinta yang tak mengenal batas. Allah mencintai orang-orang kudus dan orang-orang yang tak kudus, maka kita juga dituntut mencintai semua orang. No matter what we do to God, God always seeks our highest good and happiness. Jadi karena kita dicipta seturut rupa Allah, kita juga dituntut untuk mencintai dan berjuang untuk kebaikan dan kebahagian orang lain, tak peduli apakah orang itu baik atau tidak dengan kita. Tuntutan ini juga dikenakan pada kita karena kita adalah anak-anak Allah.
Matias Simanjorang
Share this post :

+ komentar + 1 komentar

Pencinta Kebijaksanaan
17 Juni 2008 23.18

Gimana ya...mencintai orang baik aja susah apalagi mencintai musuh. Tapi ya...saya yakin dunia akan semakin baik kalau manusia saling mencintai. Hidup Cinta.

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger