Menjadi Imam



Rekan-rekan pembaca yang budiman, pada kesempatan ini saya ingin berbagi ceritera bahagia dengan Anda. Mudah-mudahan ceritera ini juga menjadi ceritera bahagia buat Anda.

Pada tanggal 28 Maret yang lalu, di Gereja Katedral Sibolga – Tapanuli Tengah, diakon Robert dan saya ditahbiskan oleh Uskup Ludovicus OFM. Cap menjadi imam. Ini merupakan peristiwa mengharukan bagi kami berdua, sebab telah sekian lama kami berjuang, telah lama kami mengitari lorong waktu dan kini kami sampai pada sebuah pencapaian untuk melangkah pada lorong kehidupan yang lebih jauh. Banyak orang datang ingin menyaksikan penyerahan diri dua anak muda, yang di depannya masih terpampang luas impian dan harapan – cita-cita dan lamunan – letupan dan pencapaian, menjadi pastor untuk Gereja yang Kudus dan Katolik. Mereka terharu. Mereka berurai air mata. Mereka menangis karena gembira.

Perayaan tahbisan dimulai dengan perarakan dari biara suster-suster SCMM. Rombongan para imam yang berjumlah lebih dari 70 disambut oleh penari yang dengan indahnya bergoyang mencipta sebuah harmoni. Di dalam Gereja, sudah sudah disesaki oleh umat, berkumandang suara merdu dari paduan suara yang sudah sekian lama berlatih, getar suara mereka membuat bulu roma merinding. Mengharukan. Indah sekali.


Segera setelah lagu pembukaan dikumandangkan, Bapa Uskup memulai acara liturgy yang dari awal hingga akhir berjalan dengan hikmad. Liturgy mengalir indah. Acara demi acara berjalan mulus bagiakan simphoni karya musikus papan atas. Luar biasa. Kedua anak muda ini dengan gagah berani berlutut di hadapan Bapa Uskup dan dengan suara lantang mengucapkan janji Imamat.

Udara panas kota Sibolga tak mengurangi kesakralan perayaan Ekaristi dan tahbisan tersebut. Keringat yang mengalir bagaikan sungai-sungai di musim hujan, tidak mengurangi konsentrasiku untuk meresapkan makna dari setiap rangkaian acara. Tuhan memang jauh lebih dasyat dari segala yang lain.

Setelah perayaan liturgy selesai, acara ramah tamah telah siap dengan tangan terbuka siap menyegarkan para umat yang kehausan dan para hadirin yang kepanasan. Tarian demi tarian menghiasi acara. Kata sambutan demi kata sambutan menambah makna pada perayaan tersebut. Pemberian kado turut serta menjadi acara wajib yang membawa arti tersendiri, yang tanpanya arti itu akan menyendiri. Salaman demi salaman menambah hangat suasana pesta. Tak terasa telah empat jam tiga puluh menit acara berlangsung. Tiba saatnya Bapa Uskup memberi kata penutup dan berkat. Hadirin kembali ke rumah masing-masing dengan ceritera gembira yang sulit mereka lupakan. Selamat untuk kami yang ditahbiskan. Terimakasih atas semua dukungan Anda. Mari saling mendoakan.
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger