Permenungan Salibku

Salibku
Pada Minggu Palma aku masih mengelu-elukan-Mu sebagai Raja. Namun enam hari kemudian aku bersama orang yang sama juga, membawa-Mu ke pengadilan. Aku tidak tahu apa masalah-Mu namun aku tetap ngotot untuk ikut bersama mereka. Aku sama sekali tidak mempedulikan perasan orang lain.

Engkau pun tiba di hadapan Pilatus. Ia memandangmu sinis dan berkata, Apakah ini raja orang Yahudi itu? Jawab kami serentak, Benar... benar...! Dan hati penguasa itu pun tidak bergeming (seperti hatiku juga saat itu) melihat wajah-Mu yang lesu dan tak berdaya. Lalu ia menyuruh algojo-algojo untuk menambah penderitaan-Mu. Darah segar mengalir dari wajah dan tubuh-Mu yang tak bernoda. Lalu aku dan kawan-kawanku berteriak, Salibkan Dia.! Salibkan Dia.! Pilatus pun lepas tangan dan menyerahkan dirimu ke tangan orang banyak. Itu semua karena desakan kami.

Kemudian aku dengan sombong menganyam sebuah mahkota duri untuk kepala-Mu. Belum cukup.... aku meletakkan salib berat di pundak-Mu. Peluh di kening-Mu mulai berjatuhan. Aku melihat langkah-Mu mulai tertatih-tatih dan akhirnya berhenti. Tetapi tiba-tiba, Trakkk... Engkau jatuh. Pasti sakit dan pedih. Namun aku malah mengejek-Mu, Kacian dech... loe..!! Tetapi aku jengkel karena Engkau diam, tak mengeluh, dan hanya pasrah saja menerimanya. Engkau bangkit lagi dan terus berjalan. Tindakan-Mu itu justru menambah kebencianku.

Dari kejauhan kulihat Engkau bertemu dengan ibu-Mu yang sangat mengasihi Engkau. Kulihat ibu-Mu sedih, namun aku tidak peduli. Ibu-Mu menangis namun aku tidak menghiraukan. Para algojo memaksa-Mu untuk berjalan lebih cepat, namun Engkau tak sanggup lagi. Aku senang menyaksikan semuanya itu. Terpaksa seorang petani yang baru saja pulang dari ladangnya dipaksa untuk menolong Engkau. Untunglah dia orang baik, yang bersedia menolong-Mu. Dalam perjalanan selanjutnya rupanya masih ada lagi orang yang sangat kasihan pada-Mu sehingga ia mau mengusapi wajah-Mu yang berlumuran darah dan keringat. Namun aku tetap tidak merasa iba melihat-Mu. Engkau semakin lunglai, pucat, dan tidak berdaya sehingga jatuh untuk kedua kalinya. Tetapi aku tidak peduli. Aku hanya diam saja, bungkam dan tidak bertindak.

Engkau masih sempat menghibur putri-putri Yerusalem yang menangis melihat-Mu. Dan dengan tenaga yang masih tersisa Engkau melanjutkan perjalanan, namun jatuh lagi untuk ketiga kalinya. Tetapi aku masih tetap tak bergeming, beku dan keras seperti batu. Sesampai di puncak Golgota, pembantaian yang lebih keji Engkau terima. Jubah-Mu kutanggalkan secara paksa sehingga Engkau nampak seperti seonggok daging yang tercabik-cabik. Kurapatkan tubuh-Mu pada kayu yang telah disilangkan sebagai salib-Mu. Paku menghujam di tubuh-Mu tanpa ampun.

.... Sayup-sayup kudengar suara-Mu, Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dalam hati aku berkata, Ah... omong kosong, mengapa aku harus diampuni? Aku malah tertawa, Mampus, mungkin Dia sudah mati sekarang. Dan... Engkau berseru lagi, Eloi...eloi...lama sabakhtani! Lalu Engkau terkulai dan tak bergerak.

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba, keheningan, kegelapan, kesepian, dan ketakutan mencekam bukit Golgota. Kini aku gemetaran. Dalam hatiku muncul kebingungan, Kalau memang Dia tak bersalah, alangkah kejinya perbuatanku kepada-Nya. Tiba-tiba hatiku diliputi perasaan campuraduk: sunyi, berduka dan sedih. Aku meratapi diri...

Tetapi untunglah aku tersadar akan kekeliruanku. Hatiku ingin berubah. Aku berniat bertobat untuk menebus dosa-dosaku yang Engkau panggul di Salib. Aku berharap, semoga di masa prapaska ini aku semakin sering merenungkan misteri penderitaan-Mu di atas salib, dan dengan demikian aku semakin mengasihi segala makhluk ciptaan-Mu. Ya... bertobat. Itulah kata yang paling tepat yang harus aku lakukan saat ini. Bertobat... mencintai... mengasihi.. seperti Engkau telah mengasihi aku.
Sdr. Primus Simanjuntak,
Postnovisiat-Gunung Sitoli
Share this post :

+ komentar + 3 komentar

tresno wiwoho
23 Maret 2008 08.55

refleksi yang anda buat ,menurut saya, dapat mengerakkan hati saya untuk mau berubah dalam segala hal

zekson
21 April 2008 14.05

pak pastor saya mau bertobat maka dengan itu pak pastor ngasi saya saran donk karna saya berpikir kalau saya melakukan yang tidak baik tidak ada untungnya maka saya memutuskan saya ingin bertobat.

Sdr. Albert Simbolon
4 Mei 2008 09.59

Pro Zekson

pertobatan lahir dari kesadaran akan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan. saat sesuatu hal mengganjal hati dan hati tak mampu lagi mencapai. keinginan untuk memperolehnya semakin menjadi. Tapi keterbatasan kita sebagai sebagai manusia membuat kita bertanya: Akankan saya mampu menggapainya??? saat pertanyaan itu selalu kita renungkan, disitulah mulai muncul pertobatan; pertobatan akan sesuatu hal yang jauh dari diri kita.

Pertobatan tdk kenal waktu dan akan selalu berlanjut, jika kita ingin benar2x berubah.

Salam persaudaraan

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger