Sabda Bahagia

Matius 5: 1-12


Saudara dan saudari, mari sejenak menghayal. Pada suatu saat seorang teman akrab telepon dan mengeluh bahwa dia diperlukan secara tidak selayaknya oleh bossnya. Mendengar keluhan itu tiba-tiba kita mengingat kotbah di bukit. Dan kita menanggapi: “Berbahagialah kamu karena kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (kutipan sembarangan dari Matius 5:11). Atau seorang teman datang mengeluh karena kenaikan suku bunga yang semakin menjadi-jadi dan itu terjadi pada saat ia kehilangan kerja. Mendengar keluhan itu kita berkata: “Berbahagialah orang yang miskin, karena merekalah yang empunya kerajaan sorga” (lagi-lagi kutipan sembarangan dari Matius 5:3). Saya kira kalau demikian response kita maka pertemanan akan segera berakhir atau sekurang-kurangnya teman kita itu akan berpikir bahwa kita tidak terlalu sehat.



Saudara dan saudari, Injil Minggu lalu memberitahu kita bahwa Yesus memilih empat orang nelayan menjadi murid-Nya. Jelas sekali bahwa keempat orang tersebut bukanlah orang yang berpengaruh atau orang kaya atau orang yang memiliki masa depan yang cerah. Mereka hanyalah masyarakat biasa dengan masa depan yang biasa-biasa saja. Yesus memilih orang sedemikian sebab orang yang demikian akan menyerahkan dirinya secara total untuk dipakai oleh Yesus. Hal ini sejalan dengan bacaan kedua hari Minggu ini, yakni 1 Korintus 1: 26-31. Di sana Rasul Paulus mengungkapkan bahwa kita dipangil Allah bukan karena kita memiliki keutamaan untuk “dipanggil”. Bukan karena kita terpandang dan terkemuka, tetapi lebih karena Allah tahu bahwa kita bisa Dia pakai menjadi alat-Nya.



Dalam Injil hari ini kita mendengar kotbah Yesus di bukit. Injil memberitahu kita bahwa Yesus sedang menginstruksikan para pengikut-Nya tentang ajaran yang adalah milik-Nya dan Ia mau supaya ajaran itu dibawa oleh para pengikut-Nya kepada yang lain. Sebelum Ia mengajar, Ia duduk. Kata duduk merupakan kata yang penting dan berpengaruh cukup besar pada “hakekat ajaran”. Dalam tradisi Yahudi, para rabbi biasanya mengajar di rumah-rumah ibadat dengan cara berdiri, tetapi ketika pengajaran itu sangat resmi dan berisi hal yang sangat penting maka mereka pada umumnya duduk sambil mengajar. Maka ketika penginjil mengatakan bahwa Yesus sebelum memulai pengajaran-Nya, Ia duduk, menunjuk pada begitu penting dan resminya ajaran tersebut. Tentang kata duduk bisa kita bandingkan dengan kata Katedral. Satu gereja dinamai Katedral karena di sana seorang Uskup bertahta, ada “kursi” Uskup di sana dan dari “kursi” –nya itu seorang Uskup mengajar di keuskupannya. Atau bisa kita bandingkan dengan kata “ex cathedra”. Ketika Paus memproklamasikan satu doktrin dia memproklamasikannya “ex cathedra”, dari tahtanya.



Dalam ajaran-Nya, Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah…” (Matius 5:3). Harap diingat Yesus tidak berkata “berbagahagialah kamu karena kamu miskin atau kalau kamu mau bahagia silahkan jadi orang miskin”. Sekali lagi, Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah…” Apa arti dari ungkapan tersebut? Untuk mengerti ungkapan itu baik kalau kita sejenak merujuk ke Perjanjian Lama, terutama ke Kitab Mazmur. Dalam Kitab Mazmur banyak ungkapan perihal perhatian khusus Allah kepada orang “miskin”. Mazmur 9:18 berkata: “The hope of the poor shall not perish for ever”. Mazmur 34:6 berkata: “This poor man cried, and the Lord heard him, and saved him out of all his troubles.” Mazmur 35:10 berkata: “God delivers the poor.” Dll.



Maka pada kesempatan ini kita bertanya: “Apa arti kata miskin?” Ketika Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah”, Dia sama sekali tidak bermaksud mendukung kemiskinan materi. Kemiskinan materi bukan sesuatu yang layak dibanggakan. Yesus tidak akan pernah mengatakan kepada bangsa miskin “berbahagialah kamu sebab negaramu miskin”. Juga Yesus tidak akan memuji satu family yang hidup dalam situasi mengenaskan dan kurang makanan sebagai keluarga yang bahagia. Tentu bukan ini yang dimaksud oleh Yesus sebagai “bahagia”. Saya yakin Yesus akan mengatakan: “Let us make this kind of poverty a history”.



Yesus memuji bahagia orang yang miskin dihadapan Allah, berarti orang tersebut menyadari ketakmampuannya, ketakberdayaannya dan karena itu menyerahkan diri secara total pada kuat kuasa Allah. Orang yang dipuji Yesus adalah orang yang tidak terikat dengan harta yang sementara dan tak diperbudak oleh harta yang sementara. Orang yang dipuji Yesus adalah orang yang mengikat diri pada harta surgawi, mengikat diri pada Allah, sebab mereka tahu hanya Allah sendiri yang sanggup menolong, Allah sendiri dan bukan yang lain sumber harapan, Allah sendiri dan bukan yang lain sumber kekuatan yang sempurna. Penyerahan diri secara total pada Allah inilah yang membuat mereka menjadi pewaris Kerajaan Allah. Maka satu pertanyaan untuk ujian citizenship untuk Kerajaan Allah bukan: “Apakah kamu suka cricket?”, melainkan “Apakah kamu percaya sungguh-sungguh kepada Allah?”



Kemudian setelah memuji orang miskin bahagia, Yesus memuji orang yang berduka bahagia. Hal ini bisa kita mengerti secara harafiah. Benar sekali bahwa duka bisa mendidik kita secara luar biasa, yang sulit kita temukan saat kita bahagia. Duka bisa membawa kita pada kesadaran bahwa kita dicintai oleh banyak orang. Duka bisa menerangkan kepada kita bahwa Allah sungguh memperhatikan kita dan mencintai kita dan Allah hadir di sana memberi kekuatan pada kita untuk mengarungi hidup. Duka sanggup menunjuk pada kita siapa teman sejati.



Ungkapan berbahagialah orang yang berduka cita bisa juga dimengerti dalam pengertian lain. Orang bisa beduka ketika mereka menjadi korban “kebaikan” sendiri. Misalnya banyak Santo (santa) meninggal karena terkena penyakit menular saat mereka menolong orang yang menderita penyakit menular. Maka dalam pengertian ini Yesus memuji mereka bahagia karena mereka bersedia berkorban untuk yang lain. Mereka bersedia berduka untuk yang lain. Mereka akan mendapat penghiburan yang sejati.



Ungkapan ini bisa juga dimengerti bahwa orang dipuji bahagia karena mereka berduka terhadap dosa dan kesalahan mereka serta berduka atas dosa-dosa dunia. Mereka menyesal sungguh-sungguh karena mereka telah berdosa. Mereka tahu bahwa dosa merekalah penyebab salib Yesus. Karen itu mereka menangisi diri seraya berusaha mencari jalan untuk kembali kepada Allah. Maka orang yang demikian juga akan berbahagia, sebab mereka mencari jalan untuk berbahagia. Upah mereka kiranya besar di surga.



Berbahagialah orang yang lemah lembut. Berbahagialah orang yang hanya marah pada waktu yang tepat, dan tak pernah marah pada waktu yang tidak tepat. Berbahagialah orang yang bisa mengontrol emosi dan tindakannya. Berbahagialh orang yang menyerahkan diri di bawah “control” Allah, sebab orang demikian akan tahu bertindak dengan tepat.



Saudara dan saudari, untuk sementara saya kira sekian permenungan yang bisa saya bagikan. Memang masih panjang Sabda Bahagia dan masih banyak hal yang bisa diterangkan dari sana, namun pada kesempatan ini saya mau membatasi diri sampai di sini. Maka untuk mengakhiri renungan ini saya mau mengajak kita untuk membuat “rekoleksi” pribadi sambil bertanya: “Apakah saya termasuk orang yang dipuji bahagia?” “Kenapa dan kenapa tidak?”


Selamat bermenung….
Share this post :

+ komentar + 1 komentar

lenny
25 Februari 2008 03.54

thank untuk renunganya disini saya dibukakan mata. dan mengerti apa itu sebuah pengorbanan


gbu

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger