Kalian sekarang — kami dahulu

Setelah negeri Spaghetti jauh dari tatapan mata, pelan-pelan beberapa pengamatan, permenungan dan pengalaman mulai muncul kembali dalam ingatan. Teringat kembali, bukan karena negeri itu menjadi pujaan hati atau obyek nostalgia, tetapi karena ia telah membuahkan pengalaman yang dirasakan sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang setiap kali mengetuk nurani untuk masuk ke kedalaman iman dan panggilanku sebagai Fransiskan Kapusin. Dapat dikatakan bahwa pengalaman manusiawi bersandingan dengan refleksi iman dan panggilan. Kali ini saya bagikan refleksi tentang sebuah Biara Kapusin di kota Roma. Refleksi ini sepenuhnya telah muncul ketika saya tinggal di situ selama satu bulan.

Kita memiliki sebuah biara antik di tengah kota Roma. Biara ini terletak di Jalan Venetto dan menjadi salah satu objek wisata yang ramai dikunjungi oleh para turis dari berbagai negara di dunia. Mengapa dipadati para turis? Karena di biara ini terdapat tulang-tulang dari kurang lebih 4.000 saudara Kapusin dan sahabat kenalan yang meninggal antara tahun 1600-1800. Tulang-tulang itu di-susun sedemikian rupa sehingga membentuk suatu keindahan yang tidak per-nah kita bayangkan sebelumnya.

Menurut cerita para saudara yang tinggal di biara ini, ide ini dulu dimulai oleh seorang Kapusin Perancis. Ia membuat blok ruangan yang ada di samping gereja dalam enam bagian. Di ruangan kedua terdapat ruangan kecil yang dijadikan kapel untuk perayaan Misa. Keempat ruangan terakhir diisi dan didekorasi oleh tulang-tulang para saudara.

Yang menarik dalam pengamatan saya ialah kata-kata, yang terdapat dalam ruangan keempat setelah pintu masuk dari arah utara, yang dibentangkan di antara tulang-belulang. Di sana tertulis: “Apa yang kalian sekarang, itulah kami dulu, dan apa yang kalian nanti itulah kami sekarang”. Kata-kata puitis ini menurut saya sangat mendalam maknanya. Para saudara yang telah meninggal memberikan refleksi kepada saya tentang makna hidup. Hidupku di dunia ini hanyalah sementara. Pada saatnya aku dan semua yang masih hidup sekarang ini, tanpa kecuali, akan menghadap saudara maut, saat mana semua kembali ke pangkuan Sang Pencipta dan Pemilik kehidupan, Bapa surgawi. Kalau begitu tulang-tulang para saudara yang didekor sedemikian rupa tadi, di samping memiliki nilai estetis, juga memberikan unsur didaktis kepada para pengunjungnya. Yah, tentu saja bagi mereka yang memiliki daya reflektif dalam hidupnya.
Di tengah keseriusanku mendalami makna tulang-tulang para saudara itu, muncul refleksi lanjutan. Ah, hebat benar para saudara Kapusin dulu. Setelah mati pun mereka masih tetap mempunyai pengaruh dan membawa hasil atau produktif untuk para saudara yang masih berjuang di dunia ini. “Mempunyai pe-ngaruh” dalam arti bahwa tulang-tulang itu telah menyedot banyak perhatian para turis yang sedang berkunjung, agar mereka memikirkan kenyataan sesudah hidup di dunia ini. Dalam keheningannya tulang-tulang itu terus berkotbah kepada para pengunjungnya. “Membawa hasil” dalam arti bahwa para turis telah memberikan sumbangan ala kadarnya kepada pemeliharanya, yaitu para Saudara Kapusin, dan dari situ mereka boleh mendapatkan sebagian kecil rezeki hidup selama perantauan dan peziarahan di dunia ini.

Menyaksikan semuanya itu, saya pun bertanya kepada diri saya sendiri: Sejauh mana saya telah mempengaruhi orang lain? Mempengaruhi secara positif yang sesuai dengan nilai-nilai kerajaan Allah atau justru pengaruh negatif? Sejauh mana pula saya telah produktif secara jasmani dan rohani untuk persaudaraan? Saya cemas, jangan-jangan di dunia ini saya tidak pernah sedikit pun berpengaruh untuk siapa pun dan tidak pernah produktif demi persaudaraan. Kalau selama masih hidup di dunia ini saja saya sulit mempengaruhi dan berproduktif bagi yang lain, apalagi “setelah kemah kehidupanku dibongkar”. Mumpung kalau para saudara lain nanti memanfaatkan tulang-tulangku dan mendekornya, sehingga menjadi obyek wisata. Eh... tapi, jangan-jangan tak seorang pun berani melihat atau mengunjungi tulang- tulangku, karena akan dikatakan: itu tulang-tulang orang yang meninggal, uah takut!

Oh...tulang-belulang saudaraku, sekalipun penampilan kalian terkesan hening, kaku, kuno dan lusuh, namun kalian telah mengundangku untuk bertanya dan berefleksi. Kalian telah memberiku dorongan untuk memikirkan makna hidupku sebagai Kapusin secara lebih mendalam. Sekalipun aku belum mampu mewujudkannya, sekurang-kurangnya aku telah bertanya dan berefleksi, karena refleksi pun saya yakini sebagai sebuah anugerah mulia Sang Pencipta. Izinkan aku untuk mengulangi puisi indah kalian: “Apa yang kalian sekarang, itulah kami dulu, dan apa yang kalian nanti itulah kami sekarang”.
Sdr. Alfredo Janggat
Share this post :

+ komentar + 2 komentar

Sdr. Albert Simbolon
5 Maret 2008 07.09

Ya, kita selalu berharap bahwa kita selalu berjalan menuju ke (yg pasti menuju ke yang baik). Saya teringat akan kata2 Sai Baba: Hidup adalah nyanyian maka nyanyikanlah! Hidup adalah mimpi maka jadikanlah kenyataan! Hidup pun adalah Cinta maka nikmatilah!

Banyak mimpi2x yang harus kita wujudkan dalam hdup ini, mari bersama mewujudkannya dalan cinta seraya bersyukur atas anugerah-Nya.

Bravo untuk Web kita.

Salam Albert Simbolon - Alverna Sinaksak

8 Mei 2008 01.50

saya setuju dengan pendapat ini. saya merasa tertarik dengan ungkapan yang Pastor ungkapkan melalui internet ini.
dari: mauritz (siswa rhetorica, seminari menengah siantar).

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger