Yesus Dibaptis Oleh Yohannes

Yesus Dibaptis Oleh Yohannes
Injil Matius 3:13-17



Hari Minggu ini merupakan hari terakhir masa Natal. Mulai besok kita tidak akan melihat lagi crib-crib yang biasa kita lihat sejak awal December yang lalu. Dekorasi-dekorasi Natal akan segera dibongkar dan kitapun memasuki masa biasa. Masa yang biasa-biasa saja.
Masa Natal selalu ditutup dengan kisah pembaptisan Yesus. Kisah ini termasuk kisah yang sangat sulit dimengerti dan untuk kebanyakan orang menjadi kisah yang “tak mengenakkan”. Kenapa demikian? Baptism yang dibawa oleh Johannes adalah baptism untuk pertobatan dan baptism untuk pengampunan dosa. Maka kalau Yesus, sebagaimana kita semua percaya, berdiri pada posisi tak butuh pertobatan dan tak butuh pengampunan dosa dari Allah, mengapa Yesus dibaptis oleh Johannes? Baptism yang dibawa oleh Johannes adalah baptism yang diperuntukkan untuk kaum pendosa yang sadar akan dosa-dosa mereka dan membutuhkan pengampunan atas dosa-dosa tersebut. Hal ini tentu tidak berlaku untuk Yesus. Yesus tak butuh pengampunan dosa dan tak butuh pertobatan.

Meski kisah ini termasuk kisah yang sulit dimengerti dan kadang tak mengenakkan, tetapi saya kira ada beberapa alasan mengapa Yesus mau dibaptis oleh Johannes.
Tiga puluh tahun sudah Ia menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan tugas perutusan yang Ia terima dari Bapa. Ia dengan sabar melaksanakan tugas yang sederhana membantu orang tuanya menjadi tukang kayu. Ketika Ia mengetahui bahwa waktu yang ditunggu sudah tiba dan manusia sudah pada puncak penantian akan diri-Nya, Ia bergegas merangkul kesempatan. Ia menyongsong peluang yang terbuka di depan mata. Ia mengetahui bahwa waktu untuk bertindak kini sudah tiba. Kemunculan Johannes untuk mewartakan pertobatan dan mengajak umat untuk menanti dan mempersiapkan jalan untuk sang Mesias adalah waktu yang tepat untuk memulai karya. Pada saat tersebut manusia sedang berkumpul mendengar utusan yang mempersiapkan jalan untuk sang Mesias.

Lalu apa hubungannya dengan pembaptisan yang Ia terima dari Johannes? Saat tersebut merupakan saat yang sungguh berbeda dalam sejarah Israel. Belum pernah sebelumnya terdengar bahwa orang Israel menerima baptism. Benar bahwa mereka mengenal baptism tetapi baptism tidak diperuntukkan untuk orang Israel. Baptism biasanya diperuntukkan untuk orang asing yang ingin memeluk agama Yahudi. Lagi, orang Israel tidak merasa bahwa mereka adalah orang yang berdosa dan tidak berpikir bahwa mereka sebaiknya menerima baptism. Mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa sebagai bangsa pilihan mereka tak membutuhkan baptisan. Namun pada saat kedatangan John, pemikiran mereka berubah. Mereka berduyun-duyun datang untuk dibaptis. Mereka sadar bahwa mereka adalah bangsa yang berdosa. Mereka sadar bahwa mereka jauh dari Allah dan karena itu mereka mencari Allah. Mereka merindukan Allah. Mereka membutuhkan Allah.

Kesempatan yang sedemikian merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu Yesus. Manusia sedang sadar akan dosa-dosa mereka dan sadar bahwa mereka membutuhkan Allah lebih dari biasa. Ini merupakan kesempatan untuk memulai karya. Dengan baptism yang Ia terima Dia mengidentifikasikan diri dengan mereka yang akan Ia selamatkan. Dia datang pada orang yang sedang mencari Allah dan Ia datang untuk membawa mereka kepada Allah. Ia dibaptis bukan karena Ia berdosa dan butuh pertobatan, melainkan karena Ia mau. Ia mau sungguh-sungguh berbaur dengan orang yang akan Ia selamatkan. Ia sungguh mau “immerse” dalam komunitas orang-orang yang mencari Allah.

Suara surgawi yang terdengar setelah pembaptisan merupakan “peneguhan” akan siapa Yesus dan sekaligus merupakan “perkenalan” akan diri-Nya. “This is my beloved Son” merupakan gaungan dari Mazmur 2:7. Setiap orang Jahudi yakin bahwa Mazmur adalah gambaran dari Mesias yang akan datang, sang raja yang akan memerintah dengan keadilan. Kemudian “With whom I am well pleased” adalah kutipan dari kitab nabi Yesaya 53. Yesaya 53 merupakan kisah “hamba Allah yang menderita”.

Saudara dan saudari, dengan kisah pembaptisan diterangkan dengan jelas siapa Yesus. He is the beloved Son of the Father. He is the messiah, the might King of God who was to come. He is the suffering Servant. He is the savior of us all. Maka sejak awal kisah pembaptisan telah diperkenalkan bahwa Yesus adalah Raja yang akan datang dan Raja yang akan datang tersebut akan memerintah dari salib (suffering servant). Pemerintahan Yesus adalah pemerintahan dari salib, karena cinta.

Saudara dan saudari, Yesus telah menunjuk jalan kepada kita. Ia bersedia dibaptis, meski Ia sendiri tak butuh baptism. Ia dengan rendah hati menerima baptism dari John, meski Ia tahu bahwa Ia memiliki derajat yang lebih tinggi dari John. Ia adalah raja yang mahakuasa, tetapi Ia juga tidak menolak salib dan bahkan Ia memerintah dari salib.


Saudara dan saudari pada kesempatan ini saya juga mau berbicara sedikit tentang baptisan.
Beberapa saat yang lalu, ketika untuk kesekian kalinya saya mendampingi parents and godparents untuk baptism preparation, entah kenapa saya tiba-tiba bertanya “Why do you want your child to be baptized?” Tahukah Anda apa jawaban dari orang tua anak tersebut. “Well, to be honest, we bring the child to be baptized because we want to send him to a catholic school”. Tanpa sadar saya langsung buat tanda salib.


Saudara dan saudari, dalam baptism there are four elements; water, the anointing with oil, the white garment and the flame of the candle. Water is the symbol of life. Baptism is new life in Christ. The oil is the symbol of strength, health and beauty, for it truly is beautiful to live in communion with Christ. Then, there is the white garment, as an expression of the culture of beauty, of the culture of life. And lastly, the flame of the candle is an expression of the truth that shines out in darkness of history and points out to us who we are, where we come from and where we must go.
(thias)



Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger