Pesta 40 Tahun Hidup Membiara

Dari Pesta 40 Tahun Hidup Membiara:
Sdr. Angelus Simaullang dan Sdr. Romaus Daeli

Kerap kita mendapat cerita menarik pada kesempatan-kesempatan istimewa seperti tersebut di atas. Mis. kisah yang dituturkan oleh sdr. Romanus Daeli. Ketika masih duduk di kelas V SD Andreas kecil sangat rajin menjadi mesdinar kalau ada perayaan ekaristi di stasinya antara lain oleh (†) Pastor Romanus Jansen, OFMCap. Di kelas VI bocah ini akhirnya mengungkapkan keinginannya untuk masuk Seminari kepada orang tuanya. Alasannya sesuai dengan umurnya, sangat polos dan kekanakan: “Saya mau seperti Pastor itu, selalu makan enak dan selalu ada lauk-nya!” Demikianlah Andreas memulai panggilannya hingga akhirnya menjadi Pastor Romanus Daeli OFMCap. Dalam perjalanan, motifasi kekanakan itu dimurnikan. “Panggilan bukan mesti berawal dari pengalaman atau pertemuan istimewa dengan Allah. Allah memanggil juga melalui hal-hal biasa, melalui dukungan, sapaan siapa saja di sekitar kita dan kesiapsediaan mendengar sapaan Tuhan sendiri”, demikian sdr. Romanus menambahkan. 

.... Lagi, tak terbayangkan bahwa dulu suara Pastor Romanus itu - bahkan ketika sudah  menjadi imam  seperti suara tikus... kecil. Pastor Romanus menyadarinya ketika merayakan misa pertama di Padang Sidimpuan. Seorang pengurus gereja berkomentar, “Suara Pastor kecil, tidak meyakinkan!”  Tidak ingin tampil tidak meyakinkan, Pastor Romanus mencari cara agar suara besar. Beliau memilih merokok; dan akhirnya memang suaranya menjadi serak-serak dan lebih besar. Eee... tapi jangan salah memanfaatkan efek samping. Ini bukan anjuran untuk merokok apa lagi menjadi perokok. Kita yakin, suara Pastor Romanus itu kini besar, membahana, dan jernih bukan karena merokok tetapi karena perkembangan alamiah. Itu anugerah untuk beliau.
***


Lain lagi kisah tentang sdr. Angelus Simanullang. Beliau ini kita kenal sebagai seorang penjelajah segala waktu dan situasi, tanpa rasa takut bahkan medan perang sekali  pun. Apa rahasianya? “Menganggap, menerima, dan meyakini bahwa setiap orang adalah saudara. Jangan pernah mencari musuh. Pandailah memaafkan dan mengampuni maka hidup ini akan terasa enak. Sebutlah nama saudara atau orang lain di depannya atau bila dia itu hadir, dan bukan kala tidak hadir”, demikian sebagian kecil kata-kata bermakna meluncur dari bibir beliau.

...“Selamat pagi, Susanto. Apa kabar?” demikian Pastor Angelus menyapa akrab seorang polisi yang sedang sibuk merazia/memeriksa setiap kendaraan dan pengendara yang melintas; padahal baru pertama kali beliau melihat Susanto. Yakin bahwa orang yang menyapa itu kenalan dan sahabat, dan barangkali agar waktu untuk tugas razia  tidak terlalu banyak tersita, Susanto hanya menjawab singkat dengan senyum sambil memberi isyarat agar Pastor Angelus berlalu.

... Satu ketika Pastor Angelus meluncur dengan mobilnya di jalan raya melintasi satu kampung yang cukup ramai. Tiba-tiba muncul seekor babi menyeberang. Tak terelakkan, si babi tergilas. Ooiit... orang sekampung marah dan siap menghakimi. Tetapi dengan tenang Pastor Angelus mundur menemui orang ramai itu dan dengan simpati mendahului menyapa. Lalu apa seterusnya? Pastor Angelus mengamati mayat babi itu dan kemudian bertanya lucu dan lugu kepada mereka, “Ee...mengapa taiknya keluar?” Spontan massa itu tertawa.... Suasana tegang pun mencair dan berubah menjadi rileks, amarah menjadi tawa,  dst...

Demikian dua dari lebih 1001 kisah menarik dari Pastor Angelus dalam menghadapi berbagai jenis situasi sekurang-kurang selama 40 tahun menjadi kapusin.
***


Proficiat untuk saudara berdua! Dan seperti harapan dan undangan Anda berdua dan kita, sampai jumpa pada tanggal yang sama sepuluh tahun mendatang!
Oleh: sdr. Hezekiel Manaƶ
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger