Satu Semester di Postulat Kapusin Mela

Adven
Jumat sore, 30-Nov-07. Para postulan memulai rekoleksi yang dipimpin oleh Socius Magisternya, Pastor Bonifasius Langgur. Temanya: Mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. Tetapi tak disangka, rekoleksi sehari (berakhir Sabtu siang esok harinya) ini telah juga menjadi kesempatan refleksi atas hidup kami sebagai postulan kapusin.
Tak terasa hari berganti hari, bulan berganti bulan... kini sudah satu semester kami tinggal bersama di Postulat Mela dengan predikat postulan.


Untuk saya masa ini telah membawa sesuatu yang baru: mulai dari pelajaran yang diterima, kerja, sampai dengan tata tertib hidup harian yang serba berbeda dari yang kujalani sebelumnya. Semuanya kerap membuat kepala panas, walau belum sampai merontokkan rambut. Namun saya yakin bahwa itu semua telah dipikirkan untuk para calon ini sebagai bekal dalam menggapai citacita suci yang sedang tumbuh di hati sanubari.




Kami (sekurangkurangnya saya) tersadar bahwa hidup kami di Postulat sejauh ini telah dihiasi berbagai warna yang kurang cerah: mulai dari tingkah laku, cara bergaul, sampai tutur kata dengan seribu makna. Tidak jarang, satu sama lain saling bertukar tatapan tak berkedip dan menampakkan bahwa bola matanya bisa lebih besar dari buah jengkol, sering jatuh dalam kekurangan, bertindak salah, dan berbagai hal negatif lainnya. “Yah... namanya juga manusia lemah dan bersifat khilaf”, demikian ungkapan bela diri yang bisa terlontar. Tetapi, mestinya ada keinginan untuk tidak dikuasai sifat-sifat semacam itu lagi. Dan inilah kiranya yang akan membuat seseorang berkembang.


Bahwa ada kekurangan, kelemahan, dan kekhilafanku serta kekurangan, kelemahan, dan kekhilafan orang lain, hal itu wajar-wajar saja. Tetapi yang lebih penting, apakah tumbuh dalam hatiku niat atau usaha untuk mengikisnya sedikit demi sedikit?


adang aku berkhotbah kepada teman, “Belajarlah dari kerendahan hati Yesus yang rela lahir di kandang hewan dan bahkan kemudian rela dipaku di kayu salib untuk menebus manusia yang penuh kelemahan. Belajarlah dari kerendahan hati St. Fransiskus, bapa serafik kita!”. Mestinya aku tidak me-nuntut hal itu dari orang lain tetapi dari diriku sendiri.


Rekoleksi Adven ini telah membawa semangat damai untuk meninggalkkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan senjata cahaya dalam mempersiapkan diri menyambut kedatangan sang Juru Selamat. Sakramen tobat yang kami terima terasa sangat melegakan hati. Bahkan renungan-renungan yang dibawakan oleh pembimbing bukan hanya mempersiapkan hati untuk menyambut Natal, tetapi juga menambah semangat untuk semakin berjuang demi panggilan yang baru berada dalam tahap perkenalan ini.
Akhir kata, izinkanlah saya mengucapkan “Selamat mengisi masa adven dan Selamat Natal!”
Share this post :

+ komentar + 1 komentar

COSMAS
9 Februari 2008 08.17

Pax et bonum

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger