Pesta Emas Hidup Membiara

Pastor Walfrid Albers dan Bruder Martinian Grützner


Pastor Walfrid tercatat sebagai novis kapusin tanggal 16-09-1957 dan Bruder Martinian 18-11-1957. Tahun ini mereka genap lima puluh (50) tahun hidup membiara. Perayaannya telah dilangsungkan, tanggal 17-11-2007

EmasSelama berkarya di Keuskupan Sibolga Pastor Walfrid terkenal sangat rajin mengunjungi stasi dan dermawan kepada orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan. Beliau melukiskan panggilannya sebagai “terlambat” karena baru menerima jubah novis pada umur 27 tahun. Tetapi tentulah itu bukan masalah.


Kisah dan ungkapan lainnya beliau tuangkan dalam bentuk kata sambutan, sebagai berikut, “Bagaimana akan kubalas kebaikan Tuhan terhadapku. Bukan hanya untuk lima puluh tahun hidup membiara, tetapi juga atas usia yang sudah genap 77 tahun (24-Jun-07, red). Saya yakin bahwa saya tetap berada di bawah penyelenggaraan Tuhan pada masa kecil, masa muda, dan masa dewasaku sehingga masuk biara kapusin tahun 1957; bahkan juga pada masa sebagai missionaris di Indonesia - Sibolga - Nias.
Saya mengakui, Tuhan telah menyelamatkan saya dari satu krisis besar tentang panggilan ke misi tahun 1967 (kisah, lihat box).
Setelah kurang lebih dua tahun di Nias, penguasaan bahasa belum begitu baik, namun karya pastoralku (kunjungan stasi, dll) berjalan normal. Tetapi mulai sekitar akhir tahun 1967 dalam diriku ada perasaan yang menggelisahkan, seakan-akan saya tidak dipanggil dan waktu itu tidak ada teman saya bicara (Pastor Anselmus Vettori sudah pindah ke Tögizita). Perasaan itu makin kuat. Namun saya sungguh bergumul dan berdoa mohon bimbingan dari Tuhan. Setelah ± 9 bulan berlalu, perasaan gelisah itu secara perlahan menghilang, dan rasa panggilanku mulai berbunga lagi. Krisis itu pun berlalu, dan hingga hari ini tidak pernah muncul lagi.

Selain itu, Tuhan menyelamatkan saya dari penyakit berat, di mana saya sudah berada di ambang maut”. (kisah,lihatbox).
Mei 1980 saya pindah ke G. Sitoli untuk jadi Pastor Kepala Paroki. Sebenarnya saya sudah minta untuk terlebih dahulu istirahat beberapa hari sebelum memulai tugas baru ini; tetapi tidak diizinkan dengan alasan banyak kerja mendesak yang harus dilaksanakan. Saya tiba di G. Sitoli pada suatu hari Senin. Saya berencana untuk memimpin misa sambil mengadakan perkenalan resmi dengan umat pada hari Minggunya. Tetapi karena umat mau mengadakan semacam perpisahan dengan P. Edmund yang akan saya gantikan, saya menerima tugas mengunjungi stasi Bintang Salib di daerah Moi. Sabtu Malam itu ada permandian, dan besoknya ada berbagai kegiatan setelah selesai perayaan ekaristi. Lalu kembali ke Gunung Sitoli. Capek! Hari Selasa saya merasa sakit...berobat...istirahat...namun makin sakit...demam...menceret.... Hari Kamis minggu ini adalah Hari Kenaikan Tuhan, saya berbaring di tempat tidur dan tak mampu bangun. Saya dengar suara Br. Stefan bertanya, “Tak ada misa?” Saya coba paksakan bangun. Tetapi P. Anicet Flechtker menyuruh saya, “Tidur...tidur!” Jawabku, “Ya... ya... ya...!” tetapi tidak pergi tidur. Akibatnya - belakangan saya ketahui - saya jatuh dan tak sadarkan diri. Baru hari Minggunya saya dapat dibawa ke Medan dengan Pesawat. Tiga belas (13) hari lamanya saya tidak sadarkan diri. Setelah sadar, saya masih opname di RS Sta. Elisabet selama seminggu dan kemudian terbang ke Jerman untuk berobat. Di sana baru ketahuan bahwa penyakit saya adalah tipus dan infeksi kerongkongan. Menurut kesaksian P. Anicet, seandainya hari Minggu itu tidak ada sarana cepat ke Medan, saya sudah cepat bertemu saudari maut...!!

Karena itu sangat patut saya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas penyelenggaraan ilahi itu dan juga atas panggilan yang tiga pada diriku: panggilan hidup membiara, imamat, dan ke Misi di Indonesia.
Selain bersyukur kepada Tuhan, patutlah saya bersyukur kepada Ordo Kapusin dalam masa ketika saya masih berada di Jerman, dan masa ketika saya telah berada di Provinsi Sibolga atas semua yang telah saya dapat dari Ordo ini. Saya ingat kembali akan rasa panggilanku tahun 1952, ketika saya memutuskan di hadapan Tabernakel di Gereja Parokiku, “Yesus, saya mau masuk Ordo dan menjadi Imam” ketika saya berusia 22 tahun. Akibat keputusan itu saya sangat merasa tenang dan nyaman.***

Kalau Pastor Walfrid memutuskan menjadi seorang imam biarawan di hadapan tabernakel, Bruder Martianian memutuskannya lebih lewat perjalanan waktu. Menurut penuturannya, dia masuk novisiat belum dengan kebulatan tekad untuk menjadi seorang biarawan. Berbagai pergumulan dialami. Mis. ketika masih di Münster saat masih kuat pandangan bahwa imam itu adalah panggilan no.1 dan bruder no.2. Bruder Martinian tidak ber-kecil hati dengan itu. Dengan taat dan tidak bersungut-sungut dia menerima tugas sebagai kepala dapur yang harus memberi makan puluhan calon imam. “Sementara para calon imam dengan tenang menuju kapel untuk berdoa, saya masih harus buru-buru membersihkan badan yang hitam pekat karena asap dapur”, begitu kira-kira ungkapannya. Tetapi toh dia tetap hidup sebagai seorang kapusin hingga hari ini.
Bruder Martinian sesungguhnya seorang yang sedikit berbicara, tetapi bekerja sangat-sangat banyak. Selama di Indonesia, kerjanya lebih banyak berkutat dengan pembangunan gedung. Awalnya dia selalu diomeli karena bangunannya dianggap sangat mahal. Tetapi pasca gempa Nias 28-03-2005 itu, Bruder Martinian justru naik daun. Pasalnya, sementara gedung-gedung lain runtuh berantakan, semua gedung bangunannya tetap berdiri kokoh tegak, tak bergeming diguncang oleh gempa sedahsyat dan selama ± 100 detik itu. Bangunannya kini menjadi bangunan “teladan”.
Akhirnya kita ucapkan proficiat untuk saudara berdua. “Anda telah memberi teladan bahwa berapa pun pada skala Richter kuatnya gempa panggilan hidup, Anda tidak goyah karena tetap setia dan berpegang padaNya.

Sdr. Hezekiel Manaö

Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger