Religius

 


Menjadi Kaum Berjubah yang


Lebih Seimbang…


“Kaum religius mesti bisa mengintegrasikan doa, pantang-puasa, amal dan cinta kasih de-ngan baik. Di samping itu doa dan profesionalitas mesti seimbang. Bila tidak, kita akan disebut religius karir atau sejenisnya. Keadaan ini sangat rentan terhadap kekeringan dan kekerdilan dalam persaudaraan. Ia akan sering keluar “kandang” karena di dalam ia tidak menemukan kebahagiaan. Di pihak lain, semua karya dan se-luruh hidup harian berpuncak dan berpangkal dari liturgi. Liturgi adalah hidup kita sehari-hari. Semua ini akan membuat kita menjadi kaum berjubah yang lebih seimbang.” Hal ini disampaikan oleh P. Hadrian Hess, OFMCap. yang didampingi oleh P. Bonifasius Simanullang, OFM Cap. dalam ceramah pada pertemuan Kaum Ber-jubah Sibolga di Siantar-Simalungun (KABESIS), di RPF Naga Huta - Pematang Siantar, Sumatera Utara, Minggu, 29/4.



Menurut panitia, pertemuan yang mengambil tema “Kaum Berjubah dan Liturgi”, muncul dari keprihatinan rendahnya pemahaman kaum berjubah akan liturgi. Karena itu, sebagian besar tidak berminat membicarakan, mendiskusikan apalagi mendalami liturgi secara akademis ter-utama bagi yang bukan imam. Hal ini terlihat dari persentase jumlah sarjana kaum berjubah. Dari antara mereka banyak yang menjadi sarjana pendidikan, psikologi, ekonomi, akuntansi, arsitektur tetapi sarjana liturgi hampir tidak ada. Padahal mereka banyak melaksanakan liturgi. Hampir setiap hari mereka bergaul dengan liturgi. Mereka juga banyak memberikan katekese ke-pada umat tentang liturgi, padahal paham yang benar tentang liturgi tidak memadai. Mereka puas atau hanya sekedar mengeritik apa yang sudah ada atau menyerahkan seluruhnya kepada seksi liturgi. Maka, dari ketidaktahuan ini akan muncul liturgi AUS (Asal Umat Senang). Mereka seharusnya menjadi penggerak liturgi yang ideal, kreatif, dan inovatif.

Dalam pertemuan ini juga dirampungkan “Pedoman Keluarga Besar Kaum Berjubah Ke-uskupan Sibolga” yang sudah lama dinanti dan dicita-citakan. Memang masih membutuhkan perhatian, kerja keras dan masukan-masukan dari pihak-pihak lain. Tetapi sebagai langkah awal, pantas disyukuri dan didukung. Mudah-mudahan kepengurusan periode tahun ini dapat merampungkannya sehingga dalam periode yang baru nanti dapat memberlakukannya ad experimentum.

Selain itu, P. Hadrian juga mengungkapkan keprihatinannya seputar pelayanan Sakramen Tobat. Dahulu Keuskupan Sibolga dipuji oleh imam-imam, tokoh-tokoh dan petugas pastoral dari keuskupan lain karena di Keuskupan Sibolga pelayanan sakramen ini sungguh memadai, te-tapi sekarang banyak imam tidak lagi menyediakan waktu untuk ini terutama di paroki-paroki kota. Umat pun sudah berani menerima sakramen ekaristi tanpa terlebih dahulu mengaku dosa. P. Hadrian juga mengungkapkan harapan-nya kepada kaum berjubah yang muda yang masih berjuang menyelesaikan studi. Ia berharap agar bertekun dalam panggilan dan menyelesaikan studi pada waktunya, karena lapangan su-dah sangat menantikan para penuai. Ia mencon-tohkan dirinya yang tidak kuat lagi memegang beberapa pos yang dipercayakan keuskupan dan ordo kepadanya. Ia mengurutkan tugasnya: ke-tua Komisi Liturgi keuskupan, ketua Komisi Kitab Suci keuskupan, dosen di STP, Bapak Rohani Suster Klaris di Gunung Sitoli, dan tugas-tugas lain dari Ordo Kapusin. Semua ini membutuhkan perhatian dan bantuan dari orang muda ini.

Dalam kata penutup, pastor yang sedang berjuang menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Yunani ke bahasa Nias ini mengemukakan ke-prihatinannya dengan situasi masyarakat Nias pasca-gempa. Menurut beliau, gempa bumi di Nias selain membawa dampak positif seperti se-makin memadainya sarana infrastruktur, juga mengakibatkan dampak negatif yang pantas diwaspadai oleh kaum berjubah asal Keuskupan Sibolga, seperti: begitu banyak orang Nias ter-obsesi dengan uang. Gaji seorang tukang begitu tinggi. Dengan ini mereka bekerja terus menerus, sampai-sampai hari Minggu pun mereka bekerja dan lupa pergi ke gereja. Padahal sebelum gempa merupakan sesuatu yang tabu bila bekerja pada hari Minggu. Kedua, dari segi moral. Se-belum gempa adat Nias tidak memperbolehkan kaum muda laki-laki dan perempuan bicara atau bergandengan tangan di tempat yang sunyi. Te-tapi sekarang pergaulan sudah sungguh sangat bebas. Bahkan menurutnya, sudah menjadi kebebasan yang kebablasan. Pastor ini berharap agar kaum berjubah yang akan berkarya di sana mencermati dampak negatif ini.



Fr. Martinus Situmorang OFMCap.
Bikap. St. Fransiskus Jl. Medan,
Pematang Siantar

Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger