Periode Ketiga Kehadiran Kapusin (Tahun 1972-2005): Mengukir Identitas Diri

Penambahan tenaga misionaris sebanyak tujuh orang dalam kurun waktu 1972-1983 dari kedua propinsi induk. Pada periode ini pemeliharaan spiritualitas fransiskan kapusin mulai mendapat tempat. Personil pun dikhususkan. Hidup bersama sebagai saudara yang digemakan kepada dunia oleh St. Fransiskus sungguh disadari dan ditumbuhkembangkan. Wujudnya beragam dan semakin mengembang demi pengukiran identitas diri. Pendidikan Bruder Kapusin dimulai tahun 1975 di Gunungsitoli. Kemudian pendirian biara St. Felix Mela dan biara Laverna Gunungsitoli membawa banyak berkat. Hidup doa teratur, pertemuan para saudara dijadwalkan. Menyusul pendirian Pusat Pembinaan St. Leopoldo Gunungsitoli dan PBI St. Antonius di Mela untuk menyediakan tempat bagi pendalaman dan bina iman untuk seluruh umat Keuskupan Sibolga. Arsitek pengukiran diri ini adalah P. Barnabas Winkler. Setelah berdiri Keuskupan Sibolga tahun 1980, Ordo Kapusin mengikat kontrak dengan Bapak Uskup Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap agar diberi kepercayaan mengelola Paroki St. Fransiskus Gunungsitoli, St. Maria Telukdalam plus Amandraya dan St. Fransiskus Pangaribuan. Memang telah lama LPTK St. Yusuf Mela-Sibolga ditangani oleh saudara kapusin tetapi baru pada tahun 2003 seluruhnya menjadi tanggung jawab Ordo Kapusin propinsi Sibolga. Yayasan St. Fidelis dibentuk untuk mengokohkan kehadiran dan pelayanan masyarakat di bidang pendidikan yang bermutu di Kabupaten Nias Selatan.


Lama didiskusikan dan akhirnya keputusan yang menggembirakan disepakati untuk mendirikan museum di Gunungsitoli. P. Johannes Hämmerle menjadi tokoh perancang, pelaksana dan pengelola Museum Pusaka Nias atas nama ordo. Di belakang benak identitas dan jati diri etnis warga Nias jangan lenyap ditelan pembauran yang begitu gencar. Dimulailah meluhurkan motif budaya lokal di bidang bangunan, lagu-lagu, ornament, paramen liturgi. Perayaan jadinya lebih agung dan lebih indah serta menyentuh rasa tatkala gendang, gong besar dan kecil dipalu bernuansa iman. Begitu terasa Kristus sudah hadir di tengah kehidupan warga masyarakat dan berkarya untuk manusia konkrit dalam alam pikir dan alam tindak yang khas. P. Hadrian Hess berhasil memadukan injil dan budaya dalam perayaan liturgis.


Memulai kehadiran ke Flores terutama didorong oleh pusat ordo di Roma. Memang sejak awal agak tersendat dan akhirnya keberanian datang pada tahun 2000. Hingga tahun Yubileum (2005) memang belum memperlihatkan kekhasan dari bentuk kehadiran itu. Waktu masih harus bergulir.


Roh Allah berhembus menata relasi terpuji antar sesama teman seperjuangan baik biarawan/ti maupun para imam tarekat dan diosesan. Perasaan sehati seperjuangan ditanamkan oleh para misionaris kapusin sehingga sangat menyenangkan berkarya bersama dan terasa sekali semangat bahu membahu dengan seluruh komponen Gereja gugus depan entah dengan Frater CMM, Tarekat Xaverian, OSC, SVD, dengan suster SCMM, OSF, FCJM, KSFL, Bruder Budi Mulia dan tentu dengan Saudari-saudari kami Klaris (OSC Cap). Kerja sama dengan imam-imam diosesan terjalin baik sejak awal hadirnya imam projo, sebelum tahun 2000.

Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger