Periode Kedua Kehadiran Kapusin (Tahun 1955-1971): Masa Mengokohkan Akar Gereja

Babak kedua ini berawal tanggal 27 Maret 1955. Saat itulah tiba di Pulau Nias misionaris Kapusin Jerman Propinsi Rhenano-Westfalica, di bawah koordinasi Uskup Gratianus Grimm bersama P. Norbert Kurzen, P. Romanus Jansen, Br. Pankratzius Stampfl, Br. Joachim Bertolf, Br. Blasius Kettenhofen. Menyusul 25 orang misionaris muda dan energik dalam kurun waktu 1957-1971 baik dari Jerman maupun dari Propinsi Brixen Tirol Selatan.


Mengakarkan Gereja


Wilayah pelayanan dibagi per distrik-paroki seperti: Paroki Sibolga, Gunungsitoli, Telukdalam, Padangsidempuan, Pangaribuan, Tarutung Bolak, Nias Barat, Tögizita, Tello, Lahewa, Nias Pantai Timur dan Idanögawo. Pusat-pusat ini menjadi titik temu antara gembala dengan warga Gereja dan dengan para katekumen. Lewat pusat inilah dirancang kegiatan Bina Iman dan pendirian bangunan rumah peribadatan. Tidak kecut tinggal sendirian, naik sepeda atau berjalan kaki, turun naik lereng bukit terjal. Tidur di kampung selama tourney 1-2 minggu. Berjam-jam menerimakan pengakuan dosa, menyusul pembaptisan, perayaan Ekaristi dan aneka ragam pemberkatan. Akibatnya jadwal makan siang bergeser ke sore hari. Keterbukaan menampilkan penampilan koor dalam perayaan misa semakin membuat ramai pertemuan dengan sang gembala sekali empat bulan.


Tibalah momen sejarah baru pada tahun 1959 tatkala Tahta Suci mendirikan Prefektur Apostolik Sibolga. Uskup Grimm OFMCap didaulat selaku pucuk pimpinan. Beliau sangat lembut hati, penuh pengertian, murah hati dan sangat senang memasak untuk para misionaris yang kembali dari tourney dari pedalaman yang amat melelahkan. Untuk menerimakan Sakramen Krisma, dia memberikan wewenang kepada para imam. Saksi utama dalam perkawinan dipercayakan kepada para awam mengingat Sibolga lebih terbuka ke banyak arah dan lebih memadai dalam sarana komunikasi saat itu.


Sudah sejak dini diupayakan pengiriman anak-anak ke Seminari Menengah Pematangsiantar. Imam Kapusin pribumi pertama ditahbiskan pada tahun 1968 yakni almarhum Pastor Robert Dakhi, OFMCap (RIP tahun 1985).


Dengan kemahiran berbahasa dan penguasaan budaya, Pastor Anicet Flechtker giat menciptakan kursus bagi para calon katekis dalam tiga tingkat yakni: tingkat A, tingkat B dan tingkat C. Para katekis yang penuh roh ini menjelajahi seluruh Nias, menjadi corong roh kekatolikan dan tali pemersatu serta perekat umat di stasi-stasi pedalaman. Lewat offset St. Paulus diterbitkan buku-buku liturgi yang rapi dan buku-buku doa serta pengajaran/Katekismus yang apik.


Kepemimpinan dalam ordo sudah ada namun masih sebatas menjawab pertanyaan bagaimana membangun Gereja dan pengokohannya. Karena misionaris yang datang sudah kawakan dalam hidup rohani dan doa pribadi maka memang tidak minim nilai-nilai fransiskan kapusin yang diwujudnyatakan. Tetapi hidup bersama dalam sebuah fraternitas belum diidealkan pada periode pengokohan akar ini.

Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger