50 tahun Kapusin di Sibolga

Pagi Selasa, 4 Oktober 2005 ( Pkl. 07.30 wib) sekitar sebelas armada berroda empat berarak dari halam LPTK Mela-Sibolga menuju Pangaribuan. Di dalamnya tampak dengan jelas biarawan/ti, Ordo Fransiskan Sekuler, personil sendratari yang berjumlah seratus tiga puluh orang. Keceriaan dan kebahagiaan terukir jelas pada wajah mereka, seolah mau menunjukkan bahwa hari itu merupakan hari yang indah dan mengandung makna yang tiada terkira.


Perasaan seperti itu bukanlah sesuatu yang berlebihan, sebab hari itu memang merupakan momen yang pantas disyukuri. Keceriaan itu bukanlah tanpa alasan. Pada hari itu umat Paroki Tarutung Bolak, Paroki Pangaribuan dan Paroki Tumbajae menganimasi pesta Yubileum 100 Tahun Ordo Kapusin di Indonesia dan 50 Tahun di Keuskupan Sibolga, yang diselenggarakan di Paroki St. Fransiskus Pangaribuan.




Rombongan yang berangkat dari Sibolga tiba di Pangaribuan pkl. 09.30 wib. Suasana pesta semakin terasa tatkala mata menyaksikan bahwa di halaman Pastoran Pangaribuan, gereja dan Susteran, tersusun dengan rapi kendaraan bermotor – baik roda dua maupun roda empat. Umat dari ketiga paroki beserta para undangan telah berkumpul memadati Aula St. Fransiskus. Panitia pesta tampaknya telah menduga sebelumnya bahwa aula itu tidak akan mampu menampung seluruh umat dan undangan yang menghadiri pesta besar ini. Tenda – tepatnya terpal – telah dibentangkan dengan baik di luar aula. Betul saja, perkiraan panitia itu tidak meleset. Di luar aula terlihat berjubel umat yang berkumpul dan duduk dengan dinaungi oleh terpal yang telah disediakan panitia. Posisi tempat itu cukup strategis sebab berada di atas bukit yang menghadap ke aula – membelakangi susteran – sehingga umat yang berada di luar aula langsung berhadapan dengan umat yang berada di dalam aula. Dengan demikian, altar berada di tengah dengan posisi agak menyamping sehingga seluruh umat dapat mengikuti rangkaian acara yang diselenggarakan di Panti Imam.

Perayaan ekaristi (dimulai pkl. 10.00 wib) dipimpin langsung oleh Administrator Keuskupan Sibolga, Pastor Barnabas Winkler OFMCap., yang didampingi oleh Minister Propinsial Kapusin Sibolga – P. Marinus Telaumbanua OFM Cap – dan 21 orang imam lain serta 1 orang diakon. Dalam kata pembukaan, Administrator menandaskan dua hal yang menjadi intensi perayaan ekaristi ini, yakni: merayakan Pesta St. Fransiskus Asisi (sekaligus pesta pelindung Paroki Pangaribuan) dan Yubileum 100 Tahun Ordo Kapusin di Indonesia dan 50 Tahun di Keuskupan Sibolga. Beliau mengajak seluruh umat untuk memaknai peristiwa ini dalam terang iman.


Antusiasme umat tampak juga selama perayaan ekaristi berlangsung. Berbagai kegiatan turut memeriahkan perayaan agung ini, seperti koor, tari persembahan, dsb. Keaktifan dan penampilan mereka yang mengesankan ini seakan hendak mengisahkan kepada hadirin bahwa mereka telah lama berlatih dan menyiapkan seluruh rangkaian acara tersebut.


“Panggilan Fransiskus diawali dengan kisah di Gereja Tua” (baca: gereja San Damiano). Demikian Pastor Bonifasius Simanullang mengawali khotbahnya yang segera ditimpali oleh suara tawa umat, sebab ungkapan itu mengingatkan mereka pada salah satu lagu nostalgia berjudul “Gereja Tua”. Pastor Boni – demikian sapaan yang biasa ditujukan kepada Pastor Bonifasius Simanullang – menegaskan bahwa panggilan Fransiskus ditujukan untuk pewartaan Kerajaan Allah. Beliau menambahkan: “Dalam menjalankan tugas perutusannya, Fransiskus meninggalkan uang dan mengarahkan diri kepada kehendak Allah. Fransiskus sendiri bertanya: ‘‘Tuhan, apa yang Engkau inginkan untuk aku perbuat?” Sembari mengobarkan hati para pendengarnya, Pastor Boni mengajak seluruh hadirin melihat realitas yang hidup di tengah-tengah umat. “Pengalaman berbicara bahwa uang menjadi pemicu terjadinya ketegangan dan kekacauan di stasi stasi. Uang memang kita butuhkan dalam kehidupan kita, namun itu bukan sebagai tujuan hidup”. Dalam khotbahnya, sang pengkhotbah menyampaikan pujian dan ucapan terima kasih kepada seluruh umat dari ketiga paroki sebab dengan terselenggaranya pesta ini tergambar adanya persatuan dan kebersamaan umat. Justru persatuan dan kebersamaan itulah yang penting.


Usai perayaan ekaristi, acara dilanjutkan dengan makan bersama dan ramah-tamah. Acara tamah-tamah diisi dengan kata-kata sambutan dari panitia, tokoh umat, para pastor dari ketiga paroki penyelenggara pesta, undangan, Propinsial, Administrator, dsb, yang diselingi dengan berbagai kegiatan hiburan. Dalam kata-kata sambutan, terungkap ucapan Selamat Pesta kepada seluruh Persaudaraan Kapusin dan ucapan terima kasih kepada para missionaris kapusin yang telah menaburkan benih-benih Sabda Allah di Keuskupan Sibolga.


Setelah acara ramah-tamah yang terkesan lama itu, kegiatan dilanjutkan dengan pagelaran Sendratari (Seni Drama Tari) yang bertemakan: “Meretas Batas ke Timur Jauh”. Sendratari yang digelar di lapangan hijau Paroki Pangaribuan ini, disutradarai oleh seniman dari Ordo Kapusin Sibolga, Pastor Sebastianus Ch. Sihombing, OFM Cap., dengan menampilkan 130 orang personil yang terdiri dari Postulan OFM Cap Sibolga, Postulan SCMM, anak-anak asrama LPTK St. Yusuf, asrama putri St. Theresia, dan beberapa Suster OSF.


Kekaguman luar biasa tergambar pada wajah para penonton tatkala menyaksikan pagelaran ‘‘raksasa’’ tersebut. Betapa tidak, sendratari itu mengisahkan bagaimana perjalanan para missionaris yang datang dari ‘‘negeri seberang’’ (Jerman & Tirol) untuk mewartakan Sabda Allah ke Indonesia, secara khusus di Keuskupan Sibolga. “Cukup mengesankan……!” Decak kagum seorang penonton terdengar, seakan tak dapat menahan luapan kekagumannya. Refleksi sang sutradara terungkap dalam berbagai bentuk simbol. Untuk mengungkapkan banyaknya tanggung jawab yang harus diemban oleh seorang pastor, misalnya, sutradara menampilkan seorang tokoh Pastor Missionaris – yang diperankan oleh Poniman (Postulan OFM Cap) – yang didatangi oleh umat dengan berbagai macam permasalahan sembari berkeluh: “Tolong Pastor……” Keluhan umat dan tanggung jawab sang pastor yang cukup berat itu disimbolkan dengan berbagai warna kain panjang yang diikatkan pada lengan sang aktor dan ditarik oleh beberapa orang yang berperan sebagai umat. Begitu beratnya beban itu (baca: tarikan dan ikatan kain-kain) membuat pastor berjalan terseok-seok.



Sendratari memuncak pada adegan kematian sang missionaris. Kemudian menyusul suatu kutipan dari Injil: “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan buah”. Pesan terakhirpun disampaikan: “Anda juga dipanggil! Mari, kita meneruskan usaha para missionaris kita!”
Seluruh rangkaian acara pesta Yubileum yang diselenggarakan di Paroki Pangaribuan ini, berakhir dengan mengukir pesan bermakna bagi semua orang yang menghadirinya. Seraya mentari beranjak menuju bilik rahasia alaminya, rombongan dari Sibolga dan umat dari ketiga paroki serta para undangan, pulang dengan wajah ceria kendatipun badan terasa lelah.

Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger