Bruder Heinrich Schlüchter, OFM Cap

Hari Selasa, tanggal 02-Agustus-2005
meninggal dunia di Münster


Bruder Heinrich Schlüchter, OFM Cap.


Hampir delapan minggu lamanya Br. Heinrich terbaring di ruang intensif di Clemesns-Hospital Münster, Jerman. Para dokter, suster, dan perawat berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawanya. Tetapi akhirnya Saudari Maut lebih kuat. Br. Heinrich menghembuskan nafas terakhir tanggal 02-Agustus-2005 menjelang pukul 10.30 (atau 15.30 WIB). Kematian telah menyelamatkan dia dari penderitaan berat dan panjang. Lebih dari satu minggu terakhir dia terbaring tidur tak sadarkan diri lagi. Lama dia diberi oksigen melalui pernafasan buatan, dan makan melalui infus. Batang tenggorokkannya terpotong sedikit sehingga dia tidak bisa bicara lagi. Namun semuanya itu dia terima dengan sabar, setia, dan pasrah. Bila saudara kapusin datang berkunjung, dia bukannya mengeluh tetapi malah bergembira. Untaian Rosario hampir selalu menghiasi jari-jarinya. Kiranya ini merupakan tanda hubungan mesranya dengan Allah, kesiapsediaannya mengikuti bunda Maria, keinginannya bersatu dengan kehendak Allah, tak peduli syarat apa yang Dia tuntut dari padanya. Atas nama saudara tercinta ini kita bersyukur kepada Allah, Sang Pencipta, karena dia dipanggil justru pada pesta Portiuncula, pesta Bunda Maria Ratu para Malaikat, dan juga pesta Santu Fransiskus dan semua pengikutnya.


Bruder Heinrich lahir tanggal 27-Februari-1938 di kota Werne yang terletak di pinggir sungai Lippe. Orang tuanya, Heinrich Schluchter dan Johanna Niehues memberinya nama Hermann Gerhard ketika dia dipermandikan. Ayahnya seorang tukang kayu mebel, maka tak heran setelah menyelesaikan sekolah umum selama 8 tahun Hermann Gerhard magang belajar di pertukangan ayahnya. Masa belajarnya selama 3 tahun di sini dia selesaikan dengan ujian Gesellenprüfung. Setelah itu dia masih tinggal di pertukangan ini bersama ayahnya. Beberapa tahun kemudian baru dia pindah ke pertukangan ordo kapusin di Bensheim. Dia pindah ke sana karena ingin masuk biara, menjadi seorang kapusin. Tidak heran bahwa dia ingin menjadi seorang kapusin karena sejak kecil dia mengenal para kapusin yang tinggal di kotanya. Waktu masuk biara dia mengambil nama ayahnya, Heinrich, sebagai tanda hormat dan hubungan mesranya dengan ayahnya yang telah mengembangkan cinta dan talentanya menjadi seorang tukang mebel berijazah.


Ternyata dia sangat berbakat dalam bidangnya. Karena itu, sesudah kaul perdananya tanggal 23-Juli-1959, Ordo Kapusin memberinya kesempatan meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi; dia sekolah di Krefeld. Di samping tugas-tugas umum di biara, dia juga dipercayai mengepalai pertukangan biara Krefeld. Kemudian tanggal 23-Juli-1962 dia mengucapkan kaul seumur hidup dalam Ordo Kapusin. Semuanya ini akhirnya menjadi persiapan diri yang baik baginya, karena setelah dia memperoleh ijazah sebagai Schreinermeister, dia diutus ke Indonesia sebagai missionaris.


Dan sebelum berangkat ke Indonesia, dia masih menyempatkan diri mengikuti berbagai kursus di Köln, Euskirchen, dan Münster. Dia mengambil kursus praktek menjadi guru, dan belajar bahasa Indonesia. Semuanya dia laksanakan demi tugas baru yang diterimanya: menjadi missionaris.


Tahun 1969 dia bertolak dengan kapal laut ke Indonesia. Dia mulai berkarya dan melaksanakan tugas-tugasnya bukan dengan banyak kata tetapi dengan kesederhanaan dan kerendahan hati. Bersama Br. Bernhard Götte (^) dia diberi tanggung jawab memulai pembangunan LPTK Santo Yosef di Mela - Sibolga, sekolah tempat mendapat latihan dan pendidikan menjadi tukang kayu dan tukang batu yang terampil. Br. Heinrich merumuskan tugasnya dengan berkata, “Di sekolah ini bertahun-tahun lamanya saya berkarya sebagai guru dan tukang kayu, sebagai kepala penanggungjawab”. Berkat perjuangannya yang tidak mengenal lelah, LPTK Santu Yusuf berkembang dan dikenal. Banyak tamatannya cepat mendapat pekerjaan di pertukangan-pertukangan lain berkat modal ketelitian, bertanggungjawab, dipercayai, dan hasil kerjanya yang bersih dan rapi. Semuanya ini mereka dapat selama latihan dan pendidikan di LPTK.


Br. Heinrich adalah seorang misionaris yang membangun kerajaan Allah dengan mewartakan Sabda dan melayankan sakramen-sakramen, tetapi seorang misionaris yang berkarya dengan hidupnya. Modalnya adalah iman yang teguh dan kesalehan yang kokoh. Dalam semuanya itu, dia sadar bahwa dia ditugaskan dan dituntun Allah, dan cinta kasih Allah diwartakan kepada sesama. Dan hal ini dia wujudkan melalui ilmu dan talenta yang dia alirkan kepada para siswanya, sehingga mereka mampu sendiri membangun hidup mereka.


Awal Februari 2004 Br. Heinrich terpaksa kembali ke Jerman karena kesehatannya sangat terganggu. Dia diterima di biara kapusin Münster dan dirawat secara khusus. Dengan hidupnya yang penuh perhatian dan kasih sayang, sesungguhnya kami masih menghendaki agar dia masih lama tinggal di tengah-tengah kami, tetapi Allah menghendaki lain. Dia telah dipanngil oleh Allah, Raja kehidupan. Requiescat In Pace (RIP). Moga-moga dia beristirahat dalam damai Tuhan.


Mohon doa untuk arwah beliau!
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger