Bruder Blasius Kettenhofen, OFM Cap

Tengah hari tanggal 26-Juli-2005 meninggal dunia
di Münster


Br. Blasius Kettenhofen, OFM Cap.




Br. Blasius meninggal dunia setelah menikmati umur panjang, hampir 97 tahun. Hampir 76 tahun dia hidup sebagai seorang kapusin. Secara ringkas dapat kita simpulkan hidupnya dan kemudian berkata: Dia seorang hamba setia dari Tuhannya. Kita yakin bahwa Allah telah menghiburnya dengan kata-kata injil berikut ini, “Ikutlah dalam suka cita Tuhanmu” (Mt 25,21).




Hanya sedikit yang kita ketahui dari masa mudanya. Dia lahir di Merzig-Mondorf di Saarland (Jerman). Dipermandikan dengan nama baptis Nikolaus. Setelah menyelesaikan SD (1914 - 1922) pertama-tama dia pergi ke Pertambangan, tetapi kemudian dia belajar sebagai tukang batu. Setelah itu dia tidak bisa lagi hidup tanpa perkakasnya sebagai tukang batu. Dia membawa per-kakas itu ke mana saja dia pergi. Itu merupakan ungkapan kecintaannya pada pekerjaannya, di mana dia bergantung dengan sepenuh hatinya. Juga ketika dia masuk ordo kapusin tanggal 28-Agustus-1929, dia tidak berpisah dengan Sekopnya. Pada hari-hari tuanya sering dia bercerita, betapa pentingnya perkakas itu untuk dia dan untuk hidupnya dan dengan itulah dia mengisi tahun-tahun pertama hidupnya sebagai biarawan di Bensheim, Münster, Bocholt, dan Krefeld.


Tetapi dia merasa dalam dirinya ada panggilan untuk menjadi seorang misionaris. Dia meminta kepada Minister Provinsial, Pater Methodius Fritsche supaya diizinkan pergi ke Cina. Menurut Peraturan Hidup Santo Fransiskus hal ini dimungkinkan dan dia mendapat izin itu pada tahun 1934. Apakah pada waktu itu dia juga membawa serta perkakasnya dalam kopernya, tidak diketahui. Tetapi yang pasti adalah dia diterima dengan senang hati sebagai ukang semen di Cina. Dia tidak membabtis, tidak berkhotbah; tetapi apa dia lakukan dinamakan Injil dalam hidup praktis. Dia mencurahkan segala keahlian dalam membangun gedung Gereja dan Pastoran. Dalam buku “Gottes Kampf auf gelber Erde” (Perjuangan Allah di tanah kuning), yang diterbitkan oleh P. Dr. Gonzalvus Walter, di bawah judul “Geheimnisse um den Stationsbau” (Rahasia bangunan pastoran) dia melukiskan konsep suatu “perencanaan yang ideal” gedung suatu pastoran dengan segala deatailnya yang harus diperhatikan untuk bangunan suatu pastoran. Di dalam suatu buku yang diketik setebal 238 halaman, dengan judul: “Daun-daun terakhir pohon misi Cina 1934 - 1952" dia menulis pengalamannya, tugas-tugasnya, dan banyak hal lain, yang dalam cara tertentu penting bagi pengertian misi Cina, sampai pada hal-hal yang sangat sepele sekali pun.




Setelah pengusiran keluar dari Cina oleh penguasa baru Cina di bawah pimpinan Mao Tse Tung, Br. Blasius dari tahun 1952 - 1954 berkarya sebagai penjaga pintu dan tukang batu di Bocholt. Dengan rajin dia menolong pembangunan kembali biara-biara dengan sekolah dan asrama yang hancur dibombardir.


Kemudian dia bergabung dengan Uskup Grimm dan 4 bruder kapusin lain berangkat ke tanah misi baru di Indonesia. Mulai sejak awal dia memutuskan untuk mencurahkan segenap kemapuan kerjanya demi pelayanan misi. Begitu matahari memancarkan cahaya pertamanya di pagi hari pada tempat bangunannya, dia memanggil para pekerjanya dari pondok untuk segera bekerja. Dia juga sangat memperhatikan agar gedung itu sungguh-sungguh dikerjakan dan yang sudah dimulai dikerjakan dengan lancar. “Dia mengambil sekop dan menempatkannya di tangan setiap orang”, demikian sebuah kutipan dari suatu artikel tentang dia yang ditulis dalam rangka 25 tahun karya misi di Nias. Dia menemukan suatu gaya bangunan khas sehingga rumah, gereja, dan sekolah yang dia bangun tahan gempa: suatu kombinasi semen dan kayu, yang terbukti tahan terhadap gempa yang baru saja terjadi, tanggal 28-Maret-2005. Br. Blasius adalah seorang ahli bangunan di naha misi, tentang dia dikatakan dalam artikel tersebut di atas tadi, “Orang Nias senang hidup bersama Br. Blasius yang praktis dan bersama Kristusnya”.




Tahun 1984 Br. Blasius kembali ke Jerman. Tidak gampang bagi dia menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan jerman. Sepuluh tahun lamanya dia masih membaktikan dirinya sebagai sakristan dan penjaga pintu di biara kita di Waghäusel. Kemudian dia pindah ke Badmergentheim karena menderita rematik. Dia sini pun dia masih mengemban tugas kecil di kebun. Tetapi baru saja satu tahun dia tinggal di Badmergentheim dia tak mampu lagi berbuat apa-apa dan terpaksa dia pindah ke Münster dan masuk rumah perawatan. Dia sangat berterimakasih atas setiap pelayanan yang dia terima. Juga dia sangat berterimakasih kepada orang-orang yang merawatnya. Dia sering mengatakan baik bahwa dia dibawa ke Münster. Dia banyak berdoa dan menahah segala penderitaan yang dia alami. Namun segala perawatan penuh cinta tersebut tidak mampu menghindarakan tubuhnya dari kehancuran. Kanker dan diabetes yang dia derita menggagalkan mimpinya untuk dapat bertahan hidup hingga setahun tahun. Allah memanggilnya justru pada sutau hari dimana semua orang mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Dia tiba-tiba saja menutup mata untuk selamanya di rumah perawatannya menjelang makan siang.


Kita berdoa untuk senior kita ini, supaya Allah menganugerahkan damai kepadanya berkat hidupnya yang penuh karya dan berkat.


Uapacara pemakaman kami langsungkan pada hari Jumat, tanggal 29-Juli-2005, pukul 11:30. Dan sesudah itu kami menguburkan saudara kita ini di pemakaman biara.
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger