Sang Saudara Dina

Kusut masai rambutnya, dia berjalan gontai dengan irama tiga per empat
Keningnya menunjukkan suasana bathin yang sedang gundah
Angannya menembusi hening, jauh, jauh sekali.

Seorang pemuda dengan sejuta pertanyaan di benaknya.
Seorang perjaka dengan selaksa sejarah masa depan di pundaknya.
Dia tak puas lagi dengan apa yang sedang dia hidupi.


Melihat penampilannya, dia pasti dari kalangan menengah keatas.
Tapi sorotan matanya bagaikan tanah kering yang sudah retak menanti siraman hujan dari langit.
Dia simaki bisikan setiap semilir bayu menyapa.
Dia kutak katik semua liku liku kehidupan.
Dari pemimpin muda mudi, pedagang pakaian mewah, sampai kepada gejolak untuk memperoleh nama, menjadi seorang kesatria, hingga akhirnya dia terhempas dan cintanya kandas di pelukan seorang kusta.

Dia sedang mencari, dia sedang bertanya, dia sedang terbuka ...
Teramat serius persoalan hidup ini untuknya.

Fransiskus sedang meditasi dan menanti:
“Lord, what do you want me to do?”
Tuhan, apa yang Kau inginkan agar kuperbuat?

“Pergilah, perbaikilah Gereja Ku!”
Pergilah... Hiduplah seturut Injil!

“Yah, inilah yang kucari!”, pekiknya.
Yang lama yang kutanya, kini terjawab. Yang lama kukejar, kini kugapai.
Yang lama kutunggu, kini kuraih.
“Aku ingin menjadi pewarta dan penghidup Injil Suci!”

Wajahnya kini ceria.
Sorotan matanya memancarkan kebeningan embun surgawi.
Langkahnya pun kini berirama dua per dua.
Pendek kata, dia sedang jatuh cinta.
Alam pun tersenyum.
Seluruh dunia menjadi indah, seluruh jagad jadi ceria, setiap makhluk pun jadi saudara.
Didekapnya Sang Tuan Puteri Kemiskinan penuh kelembutan.
Bisikan bisikan kemesraaannya penuh canda canda keutamaan.
Gundah dan galau sirna ditelan ceria.
Sejak saat itu sampai akhir hidupnya, di dadanya bersinar mentari kegembiraan sejati.

Musim berlalu, zaman berganti, waktu pun bersaksi....

“Kongregasi kami adalah pengikut Fransiskus yang sejati!”
“Ordo kami adalah penerus setia cita cita Sang Pendiri!”
“Kami yang hidup dalam keluarga adalah benar benar pembawa semangat Sang Santo!”
“Tarekat kami adalah generasi penerus il Poverello, sang Saudara Dina dari Assisi itu!”

Puluhan ribu, bahkan ratusan ribu orang, di seluruh dunia, kini mengakui diri sebagai pengikut Bapak Serafik itu.

Benarkah semangat kedinaan masih terpancar dari kehidupan para pengikut Fransiskus dewasa ini? Adakah cita cita awal dari sang Santo masih tersirat pada adat dan kehidupan pengikutnya kini?

Bangunan rumah dan biara biara serta gedung gedung yang yang paling kokoh dan megah di setiap kota tempat dia berada adalah milik para biarawan biarawati pengikut Fransiskus. Bercokol di bukit bukit atau di sudut sudut kota yang paling strategis.
Tembok tembok pengamannya berdiri kokoh tegar;
listrik, air, parabola serta kenderaan kenderaan gardan dua melengkapi fasilitasnya.

Sementara masyarakat di sekitarnya sungguh hidup di gubuk berlantai tanah,
Mengais pagi untuk dimakan sore,
Bila malam tiba
Perut mereka yang masih keroncongan karena lapar
mengalunkan simphoni yang tak harmonis bersama dengan nyanyian nyamuk pada malam malam mereka yang gelap dan gulita.

Komentar mereka terdengar jelas dalam diam:
“Kalian mengikrarkan kemiskinan, tetapi kami yang menghidupinya”

Entah untuk menutupi semuanya itu, kerap terdengar, para pengikut Frnsiskus berkomentar: “Yang terpenting pada zaman ini adalah kemiskinan bathin, kesederhanaan rohani”.

Nah, siapakah kini yang berani bersaksi tentang kemiskinan rohaninya?
Sementara iri hati, cemburu dan percekcokan sering mewarnai kehidupan komunitas?
Siapakah kini yang dapat berbangga dengan kesederhanaan bathinnya?
Semenetara ambisi pada kedudukan di biara ataupun di tempat karya, kerap mengipas suasana panas persaudaraan?.
Masalah primordial cepat sekali menunggangi topeng perbedaan suku, budaya atau latarbelakang keluarga.
Kata persaudraan atau fraternitas kerap dipoles untuk menutupi dominasi mayoritas pada minoritas.

Seorang fransiskan mengatupkan pintu Toyotanya, mobil keluaran terakhir dengan mode mutakhir.
Mesin dihidupkan, AC dijalankan, musik mengalun, mobil pun meluncur.
Jalanan berlobang, panas terik mentari, teriakan para kenek mobil dan kerasnya hidup di sepanjang jalan yang dilaluluinya tak mengusik hatinya, semua sudah dikedap oleh nyamannya jok kenderaan dan hitamnya kaca roybent sang gardan dua yang handal itu.
Entah mau kemana dia, tak seorang pun tahu.
Di papan tulis, dia hanya meninggalkan pesan: Ke luar kota. Kembali: Malam.

Kebiasaan mintak izin kepada komunitas memang sudah lama digantikan dengan memberitahu saja. Setuju atau tidak, dialog terkesampingkan.

Coba tanyakan padanya tentang ketaatan,
kalau ada maunya, wah justru dia yang pertama harus ditaati; kalau tidak, titik titik....., begitu dia selalu mengancam!

Coba diskusikan dengannya soal kemiskinan, dia akan bilang:
“Ah, kita sudah capek mempelajarinya sejak di Novisiat. Biarlah itu tetap tertulis pada Anggaran Dasar dan Konstitusi. Itu sudah cukup”. “Saya ‘kan berasal dari keluarga dengan situasi yang lebih miskin dari situ tak mungkin lagi”, tambahnya lagi.

Tanyakan juga padanya tentang kemurnian; tak akan tertemukan jawabannya.
Sebab dia pulang tengah malam, langsung ke kamar, lalu pintu di kunci dari dalam, musik pun kembali menutupi segala suara; orang pun tak tahu lagi apa apa.
Kucing biara hanya bisa berdecak decak: ck ck ck, (ditulis): ceka, ceka, ceka!.

Pada suatu pasar swalayan...
Seorang fransiskanes memilih satu shampoo anti ketombe yang paling terkenal dan paling mahal....
“Nah, ini dia yang sering disebut di tv itu”, gumamnya.

Untuk buah, dipilihnya apel dan pir keluaran Australia serta lengkeng dari Thailan, semua serba luar negeri. “Gengsi dong, kan malu, nanti ada tamu, buah di rumah hanya pisang dan pepaya melulu”, katanya asyik sendiri.

Bahan pencucinya, oh, jangan tanya sabun batang; jari jemari lentik mereka telah lama dimanjakan oleh mesin cuci dengan bahan deterjen paling aktif dan bahan pelembut yang paling harum.
Nostalgia seperti wanita wanita desa yang mencuci di kali dalam keceriaan dan kesederhanaan tinggal hanya goresan dalam puisi.

Waktu menuju mobil, seorang pengemis sempat menadahkan tangan padanya.
Mintak sedekah.
Diceleknya dengan ujung tipis sudut matanya:
“Iih, uang kecil ndak ada... Uang besar dah habis tadi tuh waktu belanja; sorry deeeeeh!”
Dan dia pun berlalu dengan pinggul melenggang berirama: satu dua, satu dua;
kiri kanan, kiri kanan; seakan berkata:
One for you, one for me; one for you, one for me...
Olala... Salib tau di dadanya pun ikut geleng geleng kepala!

Yah, udah deh, tak usah lagi kita perpanjang litani contoh contoh
Kita sendiri melihat, kita sendiri bahkan mengalaminya
Dan orang orang pun melihat, serta mengamati setiap kesaksian kita itu.

Apa yang perlu kita tanyakan pada sang Santo pada saat pestanya ini?
Banggakah engkau Bapak Fransiskus melihat jumlah kami pengikutmu yang sudah semakin membeludak?
Puaskah engkau, mengamati cara hidup kami yang sudah begitu maju didukung hp dan internet?


Sebenarnya bukan hanya engkau sendiri, wahai Bapak Fransiskus yang tahu jawabannya.
Kami sendiri pun tahu dan sadar; hanya kami memang malu mengaku.

Baiklah, biasanya permenungan para pengikut Santo Fransiskus diakhiri dengan kalimat terkenal:
“Mari kita mulai sekali lagi, karena sampai sekarang kita belum berbuat apa apa!”
Boleh jadi hal itu mau mengatakan bahwa memang benar kita belum berbuat sebagaimana mestinya.
Boleh juga menjadi alasan untuk memaafkan diri, maka selalu kita rajin mengatakan: “Mari kita mulai sekali lagi”.

Tapi sekali ini,
Marilah secara sungguh sungguh kita mulai sekali lagi,
Kita ingat semangat asli Pendiri kita
Kita usahakan agar dia bisa bangga punya putra putri seperti kita.

Dan mari memulainya dari diri kita masing masing.

Selamat pesta, hai para pengikut sang Saudara Dina.

Mela, awal Oktober 2003
Sdr. Charles Sebastian Sihombing OFM Cap.
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger