Ai, Gagah Ngeri Itu!

Kunjungan MPDP ke Flores berakhirlah sudah. Visitator adalah Saudara Minister propinsial, Marinus Telaumbanua, didampingi oleh Sdr. Bonifasius Simanullang. Sabtu, 11 Oktober 2003, sekitar jam siesta, setelah menuruni tangga pesawat Merpati di Bandara Waioti, Maumere, yang menerbangkan kami dari Pulau dewata, Bali.

Sdr. Atanasius Gulö langsung menyambut kami dengan pelukan mesra ala per-saudaraan Kapusin, ditemani oleh Sdr. Meto-dius Sarumaha. Mereka sudah mempersiapkan segala sesuatu yang perlu atas kedatangan ka-mi. Teringatlah saya akan kata-kata Yesus yang mengatakan, “Barangsiapa meninggalkan ayah dan ibunya, saudara laki-laki dan saudara pe-rempuan demi Aku, dia akan mendapatkan se-ratus kali ganda...” Atau juga kata-kata Fran-siskus, “Seluruh dunia adalah biara kami!” Be-tapa tidak, kali ini Bandara Maumere pun seolah-olah adalah biara kami.


Dari Bandara dengan menumpangi Travel yang telah disediakan para Saudara, kami ber-gerak menuju komunitas Suster SCMM, Tho-mas Morus, yang terletak tidak jauh dari Ban-dara. Santap siang tersedia dengan meriah. Karena lezatnya makanan yang tersedia, na-mun terutama atas keramahan para Suster yang pada umumnya telah kenal sebelumnya, makan siang yang agak telat di komunitas para Suster yang telah “diklaim” para Saudara Ka-pusin sebagai komunitas kedua mereka ini, sungguh-sungguh menyegarkan; cukup mem-bekali perjalanan panjang yang langsung me-nyusul: menuju istana Bapa Uskup Agung di Ndona, sekitar lima kilometer dari Ibukota, Keuskupan Agung, Ende. Tiba agak malam, ka-mi yang tetap ditemani oleh Sdr. Atanasius, disambut dengan ramah oleh Vikjen setempat, P. Yosef Seran, SVD. Setelah santap malam, dengan penuh pengertian, kami dilepas menuju kamar masing-masing dengan pesan, “Esok si-lahkan menikmati tidur meriah, sebab kita akan mengikuti Perayaan Ekaristi sore hari di salah satu paroki untuk menutup Pekan Pembinaan Mudika sekevikepan Ende sambil pemberkatan gereja paroki yang baru selesai dipugar.” De-ngan ini kami dipersilakan menuju kamar masing-masing yang nampak telah disediakan dengan rapi agar dapat melepas lelah setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam dari Maumere.

Minggu, 12 Oktober 2003, sarapan sambil cerita panjang lebar bersama Bapa Uskup, Mgr. Abdon Longinus da Cunha, Pr. dan Vik-jen. Keramahan Bapa Uskup dan Vikjen mem-buat sarapan hampir tak terasa sudah ber-langsung sekitar dua jam. Sungguh jamuan yang sangat bersahabat. Sesudah sarapan boleh me-ngaso lagi menunggu makan siang pada pertengahan hari. Usai makan siang yang diikuti dengan siesta singkat, kami menuju Nanga-penda, tempat Perayaan Ekaristi meriah se-kevikepan akan diadakan. Di sanalah kami ber-temu dengan Sdr. Paskalis yang telah kurang lebih empat hari ber-ada di kampung sekitar Nangapenda mendampingi empatpuluhan mudika yang berasal dari Paroki St. Fansiskus Xaverius, Loboniki, Ndondo, paroki yang dikelola para saudara kita di Flores. Misa yang dihadiri sekitar 1600 mudika bersama umat separoki Nangapenda serta dimeriahkan oleh paduan suara yang terlatih ini dipimpin oleh Bapa Uskup Agung, dengan tak kurang tiga-puluhan imam konselebran dari paroki-paroki sekevikepan Ende. Dalam khotbahnya, Bapa Uskup mengajak umat bersyukur kepada Allah, mengikuti leluhur kita dalam iman, Israel, atas karya keselamatan yang dilanjutkan secara nya-ta dalam jemaat paroki setempat, berupa ge-dung gereja yang baru dan megah, hasil jerih payah umat sendiri yang memang ditopang de-ngan sumbangan-sumbangan sesama beriman hampir dari segenap penjuru Nusantara serta suksesnya Pembinaan Mudika yang dinampak-kan oleh kerja sama yang baik di antara mudika sendiri maupun dengan warga masyarakat se-kitar Nangapenda. Dalam kesan-kesannya, wa-kil mudika sendiri mengakui sekaligus kagum akan kesediaan masyara-kat setempat menam-pung mereka di rumah-rumah mereka, baik yang katolik maupun yang non-katolik. Bahkan rupanya seksi olah raga untuk kegiatan akbar itu dikomandoi oleh seorang muslim. “Umum-nya kita tidak menemui kesulitan untuk beker-jasama dengan muslim di tempat ini,” komen-tar Bapa Uskup atas kenyataan ini. “Umumnya kita tidak mendapat kesulitan bekerjasama dengan para muslim selama mereka minoritas di tempat kita,” komentar imam lain yang cepat mendapat peneguhan dari imam lainnya. Bagaimanapun kata sambutan yang berapi-api dari wakil peserta tersebut diawali dan di-akhiri dengan seruan yang sama: Kalau bukan sekarang, kapan lagi; kalau bukan kita, siapa lagi... meneruskan perjuangan Yesus meng-hadirkan Kerajaan Allah di dunia ini, mewar-takan Kabar Baik Allah sampai ke ujung-ujung dunia seperti dipesankan Yesus, meneruskan cita-cita dan perjuangan para bapa bangsa me-nuju masyarakat adil dan makmur, aman dan sentosa ini?

Usai Perayaan Ekaristi, para peserta kembali ke pos masing-masing yang tersebar di be-berapa kampung di sekitar pusat paroki, se-dangkan Bapa Uskup dan para imam, tamu-tamu undangan serta tokoh-tokoh umat makan bersama di halaman gereja yang menyatu-kannya dengan pastoran. Didorong oleh caritas pastoralis yang tinggi, Sdr. Paskalis memilih ikut makan bersama mudika rombongannya, yang berjarak kira-kira 9 km dari Nangapenda. Be-berapa imam lain pun berbuat hal yang sama, sedangkan sebagiannya lebih dahulu menikmati jamuan bersama, baru sesudah itu bergegas ke pos mudikanya. “Ma’af pater, saya duluan. Ma-sih ada lanjutan yang lebih meriah di tempat mudika. Mereka barangkali belum mulai makan sebelum saya hadir,” kata imam yang duduk di samping saya sambil beringsut pergi. Dengan senang hati saya melepas dia pergi. Dan tak lama sesudahnya hampir semua imam bubar menuju tempat masing-masing. Maka kami juga bergegas kembali ke Ndona, tempat kami me-nginap buat satu malam lagi.

Esoknya, Senin, 13 Oktober 2003, usai ma-kan siang dengan menumpangi mobil Turbo yang disediakan seorang umat secara cuma-cuma bagi perjalanan kami, kami berangkat menuju daerah Bajawa. Menurut rencana se-harusnya kami berangkat sekitar pk 10.00 wita, langsung sesudah mengadakan pembicaraan resmi dengan Bapa Uskup. Ternyata Sdr. Pas-kalis yang mesti bertindak sebagai pemandu, tidak bisa tiba pada jam yang sudah dijadwalkan karena keterlambatan bis penjemput mudi-kanya. Demikianlah tempat persinggahan kami dibatasi menurut tingkat relevannya dengan kunjungan kami. Mula-mula kami singgah di Nangaroro, daerah yang telah ditetapkan para suster kita OSF dari Sibolga menjadi tempat pelayanan mereka di Flores. Kami disambut dengan sangat ramah oleh pastor setempat. Kami dibawa melihat bakal “ladang” suster, yang memang seolah-olah berbisik, “Tak kau lihatkah keadaanku yang membutuhkan uluran tangan ini? Datanglah, jadikanlah aku tempat yang layak mempersiapkan anak-anak bangsa dan Gereja!” Saya yakin, umat paroki yang sedang berjuang menyelesaikan gereja paroki bertangga ala Lourdes itu, akan menyambut kehadiran para suster di sana dengan tangan dan terutama hati terbuka.

Setelah mampir sejenak, bahkan sempat diberi minum oleh umat, di Woloroba, desa yang dapat dijadikan pusat paroki jika Paroki Mataloko dimekarkan, kami tiba agak malam untuk menginap di Kemah Tabor, Rumah Retret yang diasuh oleh SVD, yang hanya dipisahkan oleh jalan raya dengan Kompleks Seminari Menengah St. Yohannes Bergmann, Mataloko. Atas anjuran P. Sirillus Pr, Vikep Ba-jawa yang membawahi Paroki Mataloko, yang sengaja menanti kehadiran kami di Kemah Tabor, esok harinya kami meninjau ke Were, suatu desa besar berjarak sekitar 6 km dari Mataloko. Di Mataloko sendiri kami sempat mampir di Seminari Menengah St. Yohannes Bergmann, bahkan Sdr. Marinus dan Paskalis sempat memperkenalkan Ordo Kapusin di sa-lah satu ruangan kelas enam (jadi Kls III SMU) dan di KPA St. Paulus. Karena kebanyakan (hampir semua) seminaris di sana (KPA) adalah titipan, tambah lagi mereka sedang ada les, kami hanya mampir di ruang guru saja, tanpa bertemu dengan seorang seminaris pun. Kare-na sesudah meninjau Were nampaknya seolah tak ada lagi minat meneruskan perjalanan ke Soa, salah satu paroki yang sebenarnya direko-mendasikan Bapa Uskup kami tinjau juga, se-sudah bertemu dan santap siang bersama Vikep Bajawa di tempat kediaman beliau di Bajawa, kami meneruskan perjalanan menuju Loboniki, Ndondo, tempat para saudara kita bekerja. Di perjalanan masih sempat singgah di Paroki Danga dan di susteran yang dihuni oleh dua suster Ursulin di Moarola, paroki induk Loboniki, Ndondo. Setelah tinggal bersama para Saudara kurang lebih selama enam hari, kami bergerak menuju STSP Ritapiret, Mau-mere untuk mempersiapkan keberangkatan kembali ke daerah kita di Sibolga ini. Disertai sejuta kenangan, kami diantar oleh Romo Silvester, Pr., wakil praeses Seminari Ritapiret ke Bandara Waioti, Maumere untuk terbang menuju Medan via Denpasar dan Jakarta.

Kunjungan MPDP ke Flores berakhirlah sudah. Dalam paparan terdahulu telah diceriterakan se-cara singkat kronologis perjalan kami menuju ke dan kembali dari pulau yang mempunyai Danau Kelimutu, salah satu dari 10 keajaiban dunia itu. Di sini hendak dipaparkan sedikit isi kunjungan ter-sebut sesuai dengan alamat tujuan kunjungan. Ba-rangkali ada maknanya untuk kita demi merancang strategi kehadiran kita di sana untuk masa depan. Tiga poin hendak dikemukakan di sini:

1. Dari Pembicaraan bersama Bapak Uskup Agung Ende dan jajarannya.

Senin, 13 Oktober 2003, selama kurang lebih dua jam diadakan pembicaraan resmi dengan Bapa Uskup, yang didampingi Vikjennya. Keuskupan Agung Ende, yang menurut statistik tahun 2001 telah mempunyai umat sebanyak 654.914 orang, ditinjau dari banyaknya umat merupakan keus-kupan terbesar di Tanah Air (Mutiara Iman 2004). "Kalau sudah sejak dua dasawarsa yang lalu ber-gerak menuju Gereja yang mandiri, itu tak lepas dari jasa tarekat SVD yang telah meletakkan de-ngan baik dasar Gereja di KAE ini," aku gemba-lanya, Mgr. Abdon Longinus da Cunha, Pr. Keus-kupan besar ini dibagi dalam tiga kevikepan, yang pembagian daerahnya bertepatan bersamaan de-ngan pembagian kabupaten, yakni: Kevikepan Ende di Kabupaten Ende, Kevikepan Bajawa di Kabu-paten Ngada, Kevikepan Maumere di Kabupaten Sikka. Kevikepan baru dimulai sekitar 12 tahun yang lalu. Sebelumnya KAE juga menerapkan sistem dekanat, seperti Keuskupan Sibolga saat ini. Untuk menjamin kolegialitas kegembalaan seperti dicita-citakan oleh Konsili Vatikan II, secara teratur dibuat rekoleksi bulanan para imam per kevikepan. Masing-masing Vikep menanggungjawabi berjalan-nya pertemuan bulanan ini untuk kevikepannya. Di samping pendalaman iman dan penimbaan sema-ngat baru masing-masing imam, rekoleksi bulanan ini juga dipakai sebagai kesempatan merancang dan terutama mengevaluasi bersama kegiatan-kegiatan pastoral sekevikepan. Menjelang akhir tahun, bia-sanya pada bulan Nopember, diadakan pertemuan lintas, yakni pertemuan para imam dan petugas pastoral/komisi sekeuskupan untuk merancang program keuskupan untuk satu tahun ke depan.

Dalam hal keuangan, keuskupan menerapkan prinsip Gereja mandiri. Bidang ini menjadi salah satu unsur pertimbangan yang amat menentukan, misalnya dalam menentukan dimekarkannya suatu paroki. Justru karena itulah di saat memekarkan sebuah paroki, meskipun Bapa Uskup melihat dan sudah sangat yakin bahwa paroki tertentu sudah harus dimekarkan, beliau tidak langsung membuat SK pemekaran dengan menunjuk Pusat serta Pas-tor Kepala Paroki dan Pembantunya, melainkan dengan hanya membisikkan keyakinan tersebut ke-pada umat setempat melalui vikepnya. Kalau umat setempat merasa siap untuk itu, dipersilakan mem-bicarakannya di tingkat paroki lalu "menjual" ide itu dalam pertemuan para imam. Kalau mendapat dukungan dari para imam, paroki yang bersang-kutan mengajukan proposal pemekaran kepada Bapa Uskup dengan permohonan paroki dimekar-kan. Dengan ini segala konsekwensi pemekaran, baik dari segi finansial maupun pelengkap persona-lia demi terjaminnya jalannya paroki, dibebankan kepada umat setempat. Untuk biaya apa pun di paroki, baik biaya rutin operasional maupun pembangunan-pembangunan gedung gereja, pas-toran, dsb., sama sekali keuskupan tidak memberi subsidi apa-apa. Untuk menjamin tersedianya biaya yang dibutuhkan untuk berjalannya paroki, Dewan Paroki mesti mengadakan RAP (Rapat Anggaran Paroki) setiap tahunnya, untuk menentukan baik anggaran pendapatan: melalui kolekte, pelayanan administrasi dan iuran tahunan umat maupun ang-garan belanja paroki: biaya hidup pastor dan pe-tugas pastoral lainnya, kenderaan, pembinaan, dsb. Sedangkan untuk setiap pembangunan, baik di pusat paroki maupun di stasi-stasi atau lingkungan, Paroki atau umat setempat mesti membentuk panitia pembangunan, yang akan menanggung-jawabi pembangunan tersebut, mulai dari perenca-naannya hingga selesainya; mulai dari bentuknya hingga jenis bahan yang hendak dipakai. Satu-satunya "subsidi" dari keuskupan adalah kerelaan Bapa Uskup untuk merestui panitia pembangunan mencari sponsor, baik di dalam maupun di luar negeri, dengan rekomendasi atas proposal yang diajukan.

Kemudian, untuk mengantisipasi kesimpang-siuran kepemilikan, ditetapkan: setiap bangunan yang terdapat di tanah paroki (maka dengan sen-dirinya juga merupakan milik keuskupan), tidak soal entah siapa pun membangunnya, adalah milik paroki/keuskupan. Jika tarekat tertentu mau men-dirikan rumah dengan maksud kemudian memiliki-nya, silakan membangunannya di tanah yang bukan milik paroki/keuskupan. Relevan untuk persauda-raan kita: tepatkah diwujudkan himbauan kapitel keempat Kapusin Propinsi Sibolga yang menga-takan: sudah waktunya kita membangun rumah fraternitas di Ndondo – Flores? Memang menurut informasi dari Sdr. Paskalis, Kapusin Propinsi Si-bolga telah mendapat hibah berupa tanah seluas sekitar dua hektar di Ndondo. Namun, tepatkah ke common sense kita membangun rumah fra-ternitas di tanah tersebut, atau kita merasa justru lebih tepat membangun pastoran di tanah paroki, meskipun dengan konsekwensi menjadi milik ke-uskupan? Sedangkan mengenai kontrak, Bapa Uskup mengaku, belum terbiasa membuatnya, ka-rena di luar SVD, yang boleh dikatakan tarekat pendiri KAE, belum ada tarekat lain yang me-megang paroki di KAE. Meskipun tidak menutup diri kepada kemungkinan membuat kontrak, Bapa Uskup sendiri berpendapat, lebih baik kita biarkan saja dulu segala sesuatunya berjalan alamiah.

2. Dari Pembicaraan bersama Umat Paroki St. Fransiskus Xaverius, Loboniki.

Minggu, 19 Oktober 2003, usai Perayaan Ekaristi, diadakan pertemuan dengan Dewan Paroki dan tokoh-tokoh umat yang ditutup dengan santap siang bersama. Dari pihak umat terungkap ke-inginan agar di samping menangani paroki, para Saudara Kapusin bersedia juga menangani sekolah-sekolah yang ada. Bahkan dengan konkrit mereka memohonkan agar TK, SD dan SLTP yang ada diterima Kapusin masuk dalam Yayasan Pendidikan yang kita kelola di wilayah Keuskupan Sibolga ini. Memang keadaan ketiga sekolah tersebut cukup memprihatinkan. Gedung SD yang relatif sudah lama ada, sudah rusak parah. Memang kebanyakan gurunya sudah berstatus pegawai negeri. Sedang-kan yayasan yang membawahi sekolah tersebut, yang memang berkedudukan di Ende, sama sekali tidak pernah menunjukkan perhatian. SLTP dimulai oleh para Saudara kita, Kapusin. Gedungnya memang sudah lumayan sebab masih amat baru. Namun masalah besar adalah penanganan selanjut-nya. Sampai sekarang guru-guru dan tenaga admi-nistrasi masih nyaris prodeo. Mereka diberi im-balan jasa sangat sedikit: ada yang cuma Rp 70.000 per bulan; dan itupun tidak lancar juga. Uang se-kolah anak-anak yang sebenarnya ditetapkan dalam musyawarah bersama para orangtua murid tidak jalan juga. Demikian juga dengan TK yang baru dimulai tahun ajaran ini (Agustus 2003). Gedung tidak ada, masih menumpang di ruang rapat De-wan Paroki. Satu-satunya guru yang ada, Ibu Ursula yang penuh dedikasi itu, sejak mulai mendampingi anak-anak Agustus lalu belum mendapat honor apa-apa. Sampai kapan beliau akan tahan demikian? Beliau mengaku, jika sampai bulan Desember 2003 ini dia tidak diberi gaji yang pantas (status honor tidak menjadi masalah, yang penting imbalan jasa layak), dia akan memutuskan hubungan kerja itu kendati dengan berat hati karena kecintaannya ke-pada anak-anak yang jumlahnya sekarang 28 orang. Memang kedua sekolah ini telah dimulai para Saudara kita –menurut saya– gegabah; hanya berdasarkan prinsip: mulai saja dulu, persoalan be-lakang. Rasanya kurang bijaksana, karena bisa amat menyulitkan bagi Saudara yang hendak melanjutkan karya di situ. Malah lebih buruk lagi, kepercayaan umat kepada kita hilang, karena kita dinilai tidak mampu melanjutkan karya yang telah kita mulai. Atau, bagaimana menurut para Saudara?

3. Dari Pembicaraan bersama Para Sau-dara Kapusin di Loboniki.

Hampir genap tiga tahun para Saudara Kapusin hadir di KAE. Untuk setengah tahun pertama para Saudara tinggal bersama para pastor yang melayani umat di Paroki Maurole, paroki induk Loboniki yang dilayani para Saudara sekarang. Sebagaimana diharapkan dari seorang fransiskan, para Saudara dekat dengan umat: berkunjung ke umat, hadir dengan sikap sederhana, ikut gotong royong, misa bulanan di tempat umat, dsb. Pendeknya merakyat untuk "memasarkan" Injil. Respon umat juga sangat positip. Mereka menyapa tanpa kita sapa duluan. Mereka cepat merasa akrab sekaligus de-ngan sikap amat hormat kepada para pastor, yang mereka sendiri biasa panggil: pater.

Untuk menunjang pewartaan Injil, para Saudara juga memulai proyek kecil-kecilan, baik di bidang peningkatan hidup ekonomi masyarakat maupun peningkatan SDM melalui pembinaan iman hingga pendirian sekolah-sekolah: TK dan SLTP. SD sudah ada sebelum kehadiran para Saudara kita. Kon-kritnya, karya yang ditangani para Saudara di sam-ping pelayanan pastoral paroki yang biasa adalah: kios, untuk memudahkan masyarakat memperoleh kebutuhan sehari-hari; pertukangan yang mereka sendiri sebut "bengkel" untuk membantu masya-rakat memperoleh perabot-perabot yang bermu-tu; SLTP dan TK, menyediakan fasilitas pendidikan formal bagi anak-anak, khususnya dari keluarga-keluarga yang tak mampu menyekolahkan anaknya ke kota. Loboniki sendiri adalah sebuah desa yang terletak kurang lebih 20km dari kota kecamatan. SDM dan perekonomian masih tergolong rendah. Karena itu, kehendak untuk maju lekas pudar apabila tidak dianimasi terus menerus. Sebenarnya prasarana utama untuk peningkatan telah tersedia: hubungan dalam arti lalu lintas lancar dan jalan bagus, baik ke kota kecamatan maupun ke ka-bupaten. Tanah pada dasarnya tergolong subur, namun hujan amat jarang. Di saat kami kunjungan, menurut mereka telah kemarau kurang lebih de-lapan bulan. Memang di mana-mana kelihatan semak-semak yang mengering, meskipun Jambu Mente kelihatan subur dan sedang musim panen. Maka pada dasarnya daerah bisa cukup maju apabila SDMnya cukup bermutu. Inilah "target" yang hendak dikejar para Saudara kita. Dan karena itulah tanpa kenal lelah mereka (para Saudara kita itu) berani memulai proyek-proyek yang dise-butkan di atas.

Namun para Saudara sendiri sudah melihat dan mulai merasakan bahwa kemajuan seperti didam-bakan, baik dalam hidup ekonomi, pendidikan dan terutama hidup imani, bukan terletak pada banyak-nya proyek. Sebab apakah gunanya memulai pro-yek jika tidak mampu bertahan? Tanpa memakai kacamata yang amat pessimistis, fakta sendiri ber-kata: bahan jualan yang ada di kios hanya bebera kilo gula dan garam, meskipun kiosnya relatif besar dan dijaga seorang karyawan. Mengapa demikian? Modal tidak kembali karena pembeli ngutang! Pertukangan macet. Setiap orang yang diajak Sdr. Atanasius bekerjasama selalu mengundurkan diri sesudah beberapa waktu. Mengapa? Tentu karena mereka melihat bahwa kerja itu tidak dapat men-janjikan masa depan. Sekolah yang telah dimulai tidak juga lebih baik halnya. Renungkanlah sendiri: satu-satunya guru TK, sejak bekerja Agustus lalu hingga sekarang, belum menerima sesen pun untuk gajinya. Celakanya, khususnya sejak Sdr. Alphonsus Pandiangan pindah, dia (sang guru) tidak tahu mau mengadu ke siapa? "Saya tak tahu siapa tuan saya," katanya lirih. Jangan tanya soal fasilitas mainan anak-anak, ruangannya sendiri masih nompang di ruang rapat Dewan Paroki. Dan –barangkali parah juga ini, saya tidak tahu– kepala TK terdaftar, Sr. Ambrosia SCMM, yang memang berdomisili di Nebe, Kabupaten Sikka, masih cukup jauh dari Maumere, amat enggan disebut-sebut sebagai ke-pala TK karena memang hanya sekali pernah ke Loboniki. Lalu SLTP? Keadaannya tidak lebih baik. Gedung memang sudah ada, namun hampir semua gurunya adalah part-timer. Honornya pun amat memprihatinkan dan itu pun sering tak lancar diberi. Mau dinegerikan? Menurut para Saudara hampir tak mungkin. Barangkali karena letaknya di tanah paroki. Entahlah! Administrasinya masih acak-acakan. Selama kami di sana, Sdr. Metodius hampir setiap malam sibuk mengisi Buku Induk Sekolah, yang seharusnya sudah selesai dua tahun lalu, di saat sekolah dimulai. Lalu, tidak jelas siapa pengelola sekolah-sekolah ini? SD yang dimulai Keuskupan sesudah bencana tahun 93, memang berada di bawah Yayasan Perguruan Katolik di Ende. Namun yayasan sama sekali tidak memberi perhatian sehingga keadaannya memang amat memprihatinkan. Syukur memang hampir semua gurunya sudah PNS. Apakah ada dampaknya bagi pengelolaannya jika TK dan SLTP yang sudah dimulai digabungkan ke yayasan tersebut? Dan pertanyaan paling dasar: dalam keadaan seperti di-gambarkan tadi, maukah yayasan menerima seko-lah itu sebagai unit kerjanya? Barangkali inilah latar belakang sehingga umat setempat mengharapkan dengan sangat agar Propinsi Kapusin Sibolga mau menggabungkan sekolah-sekolah tersebut ke yayasan yang kita kelola.

Nah, demikian sekelumit keruwetan karya yang ditangani para Saudara kita di Flores. Bagaimana-pun start ini masih perlu dibenahi. Karya perlu di-beri fokus agar tahu membuat prioritas. Untuk itu perlu koordinasi, perlu duduk bersama untuk merancang program sesuai dengan prioritas yang telah ditentukan. Dan, menurut pengakuan para Saudara, itulah yang telah tiada dalam fraternitas kita di Flores akhir-akhir ini. Masing-masing Sau-dara berbuat apa yang dia anggap baik dan cocok untuk dilakukan tanpa membicarakannya dengan Saudara sefraternitas. Akibatnya yah itu tadi: karya yang telah dimulai terancam tak sanggup lanjutkan. Sebenarnya ditinjau dari potensi yang ada, baik SDA maupun SDMnya kemajuan yang didambakan bukan sesuatu yang mustahil. Sebab pada dasarnya, baik alam maupun manusia amat murah hati. Apakah bukan kemurahan hati alam yang luar biasa bahwa meskipun telah sekitar delapan bulan kemarau, namun Sungai Ndondo tetap mengalir dan air bersih dari gunung yang gundul tetap menjamin penduduk desa tak kehausan? Hal yang sama dengan manusianya: ke mana saja kita pergi disapa dengan amat akrab dan kalau bertamu selalu disuguhi "alas" (makanan ringan)? Sungguh sebe-narnya merupakan "negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya". Atau dalam langgam setempat dikatakan, "Ai, gagah ngeri negeri itu!" Maksudnya: sungguh tampan dan cantiklah negeri itu! Moga Persaudaraan kita berhasil mewujudkannya. Esto!

Gunungsitoli, 30 Oktober 2003
Sdr. Bonifasius Simanullang
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger