Sejenak berlibur

Musim Panas di Tirol Selatan - Italia


Sudah menjadi khas di Europa setiap tahun ada libur Musim Panas. Biasanya libur musim Panas ini antara bulan Juli – September setiap tahunnya.

Kebiasaan yang sama juga terdapat dalam Biara Kapusin di Europa. Maka setiap Saudara boleh mengambil masa libur selama dua minggu setiap tahun. Biasanya setiap Saudara sudah mempunyai rencana liburnya sendiri dan sebelumnya memberitahu Guardian. Hal itu penting agar tidak terjadi libur serentak sehingga Biara bisa kosong.


Pada Musim Panas tahun ini (19 – 26 Agustus 2003) saya berlibur di kota Bozen, Tirol Selatan – Italia. Pertama sudah sejak lama saya diundang oleh Pater Albert Piok untuk sekali berkunjung ke Tirol Selatan. Kedua saya ingin sekali melihat daerah Tirol, mengalami persaudaraan Kapusin di sana sambil mengunjungi para mantan misionaris, dan yang terpenting melihat dari dekat kultur dan budaya.

Daerah Tirol memang sangat khas dengan gunung-gunungnya yang tinggi. Tetapi ia juga memiliki lembah yang sangat dalam dan berbahaya. Gunung Marmolada umpamanya setinggi 3.342 meter, sehingga sepanjang tahun selalu terdapat es abadi di sana; Gunung Alpen di Siusi 3.181 meter; Penserjoch 2.211 meter sangat terjal. Juga di ketinggian itu terdapat danau indah seperti Pragserwildsee.

Penduduk Tirol Selatan, sangat khas dan unik. Terutama dalam hal bahasa, sehari-hari mereka menggunakan bahasa daerah setempat, bahasa Ladinien. Juga mereka memakai bahasa Jerman sebagai bahasa resmi terutama dalam politik dan pemerintahan, sedangkan bahasa Italia merupakan bahasa resmi lebih khusus untuk perekonomian dan perdagangan. Di Biara Kapusin sendiri memakai bahasa Jerman terutama dalam Liturgi, misa dan ibadat harian.

Pertama saya melihat situasi daerah ini yang dihiasi dengan pegunungan terjal dan jurang yang dalam itu, tentu sangat sulit membayangkan bagaimana membangun transportasi jalan, atau bagaimana membangun sebuah rumah. Rasanya tidak masuk akal. Tetapi kenyataan membuktikan lain. Lereng gunung telah disulam menjadi kota tersusun rapi, indah dan memiliki seni arsitektur menawan. Kota-kota di Tirol Selatan telah memikat hati ribuan orang turis sepanjang tahun dan datang ke sana menikmati alam.

Jalan raya dibuat sedemikian, jembatan layang menyelusuri lembah dan menyesuaikan diri dengan tikungan lereng gunung. Sehingga alam tidak dirusak. Jadi kalau kita melewati jalan tol kita merasa seperti dibuai menyelusuri lembah-lembah yang dalam. Bagi pengemudi dituntut sedikit keberanian dalam arti tidak takut berjalan di ketinggian. Karena gunung yang terjal, maka tidak kurang dari tigapuluh buah terowongan menembus jantung gunung yang tinggi itu. Terowongan ini ada kalanya sepanjang 23 km dan berbelok-belok. Terowongan itu dipergunakan untuk jalan tol, dan jalur Kereta Api. Saya teringat jalan Sibolga - Tarutung, dan saya bayangkan kalau kedua kota ini dipindahkan ke Tirol Selatan, maka gunung itu akan dibor menjadi terowongan dan jurang itu akan dijembatani tanpa merusak alamnya, sehingga untuk menempuhnya tidak lagi dua jam melainkan hanya sekitar sepuluh menit, karena Sibolga – Tarutung cuman 32,5 km garis lurusnya.

Seperti saya sudah katakan tadi bahwa daerah Tirol Selatan ini adalah daerah pegunungan, makan daerah ini telah dibuat menjadi pemasok listrik tenaga air. Sedemikian maju tekniknya mereka memanfaatkan air itu sampai tiga kali membangkitkan turbin-turbin besar dibawah tanah yang menghasilkan tenaga listrik yang besar bahkan melayani ke berbagai kota besar lainnya.

Seorang keluarga kecil di lereng gunung Penserjoch juga memanfaatkan listrik tenaga air, dengan menyambung sebuah selang 8 inchi ke sebuat turbin kecil yang mampu menghasilkan 1.200 Watt. Alat itu mampu melayani kebutuhan sebuah rumahtangga tanpa pengeluaran bulanan. Dan Air yang keluar dari mesin kecil itu dimanfaatkan untuk menyiram lereng gunung yang terjal dan tandus itu menjadi sebuah kebun yang menjadi subur dan menghasilkan buah apel terbaik.

Perekonomian di sini sangat maju, terutama dari sektor pertanian, turis, listrik, dan kerajinan tangan (souvenir). Peranan koperasi di sini sangat penting, agar harga dari hasil pertanian tetap stabil. Koperasi menentukan jadwal panen setiap desa, agar buah di pasaran tidak banjir dan menjadi murah. Dan betul berfungsi. Produksi apel dari sini menembus pasar Eropa, tentu saja berkat jasa koperasi ini.

Pater Albert Piok sudah menyusun perjalanan sebelum saya tiba di Bozen. Hari pertama kami bertiga bersama Pater Heinrich Terfrüchte mengunjugi Biara Kapusin Schlanders, di Biara ini kami makan siang bersama lima orang Saudara Kapusin.
Kebun biara ini sangat subur dan Pohon buah itu kepayahan memikul hasil buah yang melimpah. Kebun ini diurus oleh Br. Seraphin.

Hari kedua, kami bertiga Pater Guardian Bozen P. Hubert piknik ke Gunung Penserjoch dan memetik buah Reiselbeeren di sepanjang kaki gunung Penserjoch lalu mengunjungi Biara Kapusin di Sterzing. Hari ke tiga kami mengunjungi Biara Brixen, dan merayakan misa di kapel pribadi salah satu keluarga di Lünen. Hari keempat adalah pause, saya jalan sendiri di pusat kota Bozen, mengunjungi Museum dan pasar.

Hari kelima dan ke enam, kami membuat aksi Misa Dana untuk Seminari Keuskupan Sibolga di Gereja Fransikan Kaltern (tiga kali misa), sore harinya kami mengunjungi Pater Leonhard di Bruneck. Hari terakhir saya kembali ke Münster sambil membawa kenangan dan pengalaman tinggal sepekan di daerah Tirol Selatan.
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger