Ziarah ke Assisi 23-27 Juli 2003

Perjalanan ke Assisi memang sangat mengagumkan dan berkesan. Apa lagi kami memiliki dua orang pemandu profesional Sr. Paulin dan Sr. Hanna dan mereka sangat bersahabat. Hampir semua tempat-tempat dimana Santo Fransiskus dan Santa Klara dulu pernah hidup, kami kunjungi diringi doa dan keterangan yang sangat lengkap. Tentu semua dalam bahasa Jerman.

Yang menarik untuk saya ialah, tiga belas tahun yang lalu di saat saya menjalani tiga belas bulan Novisiat di Parapat, hampir semua tempat itu dan sejarah ordo sudah saya pelajari dengan sungguh-sungguh. Kini semua yang pernah saya pelajari itu saya alami secara visual dan nyata dengan perasaan hikmat. Itu yang membedakan saya dengan 40 orang peserta lainnya. Bagi mereka mungkin hal itu hanya sekedar piknik, tetapi bagi saya setiap saat dalam ziarah itu adalah rahmat dan berkat.


Lima hari di Assisi, dan hampir setiap harinya saya rajin berdoa sekaligus membawakan ujud doa-doa yang dipesankan oleh beberapa orang, juga agar saya bisa bertemu dengan Fransiskus dan Klara. Alangkah menganggumkan di hari terakhir kami: Sr. Veronika Oscap, Vincentia Oscap dan Margaretha Oscap, yang ikut dalam ziarah, bertemu dengan dua orang Indonesia (Fr. Salmon dan seorang Pastor) yang tinggal di Basilika Santo Francesco dan secara tidak terduga mereka mengundang kami untuk makan malam. Artinya di Biara dimana Fransiskus dikuburkan kami mendapat kesempatan untuk makan malam. Waktu saya di depan kuburan Fransiskus saya bertemu dengan dengan seorang Saudara Konventual di situ dan saya mendapat berkat dari dia dengan menumpangkan tangan di kepala saya.

Saya merasa Fransiskus sendiri menyuruh orang itu memberkati saya. Tidak hanya itu, di Biara ini kami bertemu seorang Jerman (Sdr. Frank), dan kami berbincang-bincang dengannya dalam bahasa Jerman dan dia menawarkan agar malam itu juga kami mengunjungi Biara St. Klara di Asisi, sekitar 500 meter dari Basilika Santo Francesco. Jadi kami menyalami semua Suster Klaris di situ (33 orang), dengan itu saya merasa St. Klara telah mendengar doaku untuk bertemu dengan para pengikutnya. Itu pengalaman ajaib yang tidak pernah kuduga dan sebelumnya hanya saya berdoa kalau-kalau saya dapat bertemu Fransiskus dan Klara, yang telah menjadi teladan bagi banyak orang tidak hanya dikalangan religius semata tetapi kepada semua orang yang berhati baik dan penuh cinta kasih, tanpa batas agama.

Itulah inti dari Ziarah kami, saya sendiri merasa lima hari seperti sekejap saja, dan setiap saat kurasakan sebagai rahmat bagiku. Waktu kami pulang saya ingat pesan Budha di Borobudur, bahwa seseorang yang hidup rohaninya mencapai Nirwana, dia tidak tinggal di takhta Nirwana, melainkan merendah dan mendunia. Jadi kota Assisi memang seperti Surga di dunia, terutama nilai seninya yang tinggi dan lahirnya "Sang Saudara bagi setiap makhluk hidup itu" di situ, sangat mengagumkan. Maka saya pikir nasehat Sang Budha cocok untuk saya untuk segera pulang dan mendunia dengan penuh damai.

Itulah secara singkat cerita dari perjalanan Ziarah kami, banyak pengalaman mengagumkan dan sekaligus memberi daya kekuatan baru, secara istimewa karena saya juga adalah pengikut St. Fransikus.

Sdr. Yustinus Waruwu.
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger